Lubang Raksasa di Aceh Terus Meluas, Badan Geologi Ungkap Ancaman Serius ke Permukiman
Jakarta, sustainlifetoday.com — Fenomena lubang raksasa yang muncul di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan dinilai berpotensi mengancam area permukiman warga. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan sinkhole, meski terjadi pada material yang berbeda.
Plt Kepala Badan Geologi ESDM Lana Saria menjelaskan bahwa sinkhole umumnya identik dengan wilayah batuan gamping atau karst. Namun, kejadian di Aceh Tengah menunjukkan bahwa batuan vulkanik juga memiliki kerentanan serupa.
“Fenomena sinkhole (lubang amblesan) memang identik dengan batuan gamping (karst), namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” kata Lana Saria, dilansir dari Detik pada Selasa (3/2).
Badan Geologi menilai gerakan tanah di lokasi tersebut telah berlangsung cukup lama. Kondisi batuan dasar, kemiringan lereng yang sangat terjal, serta keberadaan aliran irigasi turut memperbesar potensi meluasnya lubang raksasa tersebut. Informasi dari warga setempat juga menunjukkan bahwa pergerakan tanah telah terjadi selama beberapa tahun dan semakin aktif pada musim hujan.
“Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (sarang), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap,” ujar Lana.
BACA JUGA:
- Prabowo Siapkan Gerakan Indonesia ASRI untuk Wujudkan Lingkungan Aman dan Bersih
- CEO Anthropic: Tanpa Tata Kelola Ketat, AI Berpotensi Jadi Ancaman Global
- Legislator Golkar Soroti Banjir yang Berulang, Desak Penataan Ulang Kebijakan Lingkungan
Ia menjelaskan bahwa ketidakstabilan lereng dan kondisi jenuh air menyebabkan batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah. Proses pengikisan tebing secara lateral oleh aliran air turut mempercepat perluasan lubang.
“Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air, sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah, ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan,” kata Lana.
Menurut dia, potensi perluasan masih akan terus terjadi selama aliran air bawah permukaan belum dapat dikendalikan.
“Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan,” jelasnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan tanah berbentuk lubang di wilayah Kampung Bah, Kecamatan Ketol, telah berlangsung sejak awal 2000-an dan terus membesar secara bertahap.
“Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah Andalika, Kamis (15/1), seperti dikutip dari Antara.
Ia mengungkapkan bahwa hingga kini belum ditemukan literatur ilmiah yang secara pasti menjelaskan awal mula terbentuknya longsoran tanah berbentuk lubang tersebut. Namun, dampaknya telah dirasakan masyarakat sejak lama.
Menurut Andalika, longsoran tersebut sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah pada sekitar 2006. Selain itu, relokasi warga Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru juga pernah dilakukan pada 2013–2014.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” ujarnya.
