KKP Dorong Pencegahan Sampah dari Daratan untuk Lindungi Ekosistem Laut
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa sebagian besar sampah yang mencemari laut berasal dari daratan, terutama aktivitas rumah tangga. Karena itu, upaya pencegahan di sumber menjadi strategi utama untuk mengurangi kebocoran sampah ke laut dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir serta perairan Indonesia.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan penanganan sampah yang sudah berada di laut jauh lebih sulit dan membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, keberadaan sampah, termasuk mikroplastik, dapat mengancam kesehatan ekosistem laut dalam jangka panjang.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, KKP telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Bali guna meningkatkan pengelolaan sampah di daratan agar tidak berakhir di laut.
“Maka strategi kita dalam mengelola sampah supaya tidak masuk ke laut itu dilakukan dengan pencegahan. Kita harus bisa mengelola sampah di daerah masing-masing. Dan sampah ini persoalan serius yang harus ditangani secara bersama,” ujar Koswara di lokasi aksi bersih pantai yang digelar KKP bersama DANA Indonesia di Pantai Petitenget, Badung, Bali, dikutip dari siaran pers KKP, Kamis (18/6).
Secara nasional, KKP telah menginisiasi program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah) sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah laut. Program ini mengedepankan dua strategi utama, yakni mencegah sampah masuk ke laut dan menangani sampah yang sudah mencemari perairan.
BACA JUGA
- KLH Targetkan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 28,18 Persen pada 2027
- PTBA Tingkatkan Cofiring Biomassa di PLTU Banko Barat untuk Dukung Dekarbonisasi
- Jakarta dan Singapura Perkuat Kolaborasi Pembangunan Kota Berkelanjutan
Untuk strategi pencegahan, KKP melakukan pemantauan pada empat titik utama, yaitu sungai yang bermuara ke laut, desa pesisir termasuk Kampung Nelayan Merah Putih, pulau-pulau kecil berpenduduk, serta pelabuhan dan aktivitas di laut.
Aksi bersih pantai di Pantai Petitenget yang melibatkan organisasi Seven Clean Seas juga diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari wisatawan, pelaku industri perhotelan, pelajar, hingga taruna dan taruni sekolah vokasi KKP.
Berbagai jenis sampah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari plastik kemasan makanan, botol kaca, sampah organik, hingga puntung rokok.
Director of Communications DANA Indonesia, Olavina Harahap, mengatakan keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari komitmen mendukung pengurangan sampah melalui edukasi dan aksi nyata.
“Ini bentuk komitmen kami. Sebelumnya kami sudah melakukan edukasi sampah melalui apps game yang sudah kami luncurkan, sekarang ini offlinenya melalui aksi bersih sampah berkolaborasi dengan KKP,” ujar Olavina.
Ia menambahkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap sektor ekonomi.
“Kami dapat informasi bahwa pencemaran sampah ini dapat membuat penghasilan nelayan berkurang sampai 30 persen. Ini tentu akan berpengaruh juga dengan ekonomi digital,” ungkapnya.
Sementara itu, Founder & CEO Seven Clean Seas, Tom Peacock-Nazil, menilai persoalan sampah membutuhkan solusi yang terintegrasi dan berjangka panjang agar tidak menimbulkan persoalan baru di masa depan.
“Saya sebenarnya mendukung pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) kedua. TPA itu dapat memberi kita waktu sekitar 10 tahun. Dalam waktu tersebut kita bisa membangun fasilitas waste-to-energy, menarik investasi, dan bekerja sama dengan PLN. Langkah-langkah tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya.
