ID Food Keluhkan Kelangkaan Plastik, Bioplastik Bisa Jadi Solusi?
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID Food), Ghimoyo, mengungkapkan kesulitan memperoleh bahan plastik untuk kebutuhan kemasan pangan dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).
Ia menyebut kelangkaan plastik yang belakangan menjadi perhatian publik juga dirasakan langsung oleh pelaku industri pangan nasional.
“Kami kesulitan yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan,” katanya dalam rapat tersebut.
Menurut Ghimoyo, pabrik-pabrik di Indonesia mulai mengalami kesulitan memperoleh biji plastik akibat terbatasnya pasokan. Kondisi ini dinilai krusial mengingat sebagian besar produk pangan masih bergantung pada plastik sebagai bahan utama kemasan.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan plastik mencakup berbagai komoditas, mulai dari beras, minyak goreng, hingga sektor pupuk yang menggunakan karung berbahan plastik.
“Ini lebih krusial karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu, kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng, juga menggunakan bahan yang sama,” ujarnya.
Kenaikan harga dan kelangkaan plastik disebut sebagai dampak dari terganggunya jalur pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang turut mendorong biaya logistik dan energi. Selama ini, sebagian bahan baku plastik Indonesia masih bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA
- Eiger Adventure Land Dorong Pemulihan Lingkungan Lewat Aksi Bersih di Puncak
- Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi Tidak Naik Hingga Akhir Tahun
- Punya 100 Data Center AI, Suhu Panas Jakarta Terancam Naik Signifikan
Di tengah tantangan tersebut, pengembangan alternatif kemasan ramah lingkungan mulai mendapat perhatian sebagai solusi alternatif sekaligus jangka panjang. Sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan bioplastik, plastik berbasis bahan hayati seperti pati, tebu, atau rumput laut terus meningkat secara global.
Data dari European Bioplastics memperkirakan kapasitas produksi bioplastik dunia akan meningkat dari sekitar 2,2 juta ton pada 2022 menjadi lebih dari 6 juta ton pada 2027. Pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan akan material yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil.
Di Indonesia, potensi pengembangan bioplastik berbasis rumput laut juga dinilai besar mengingat ketersediaan bahan baku yang melimpah. Selain itu, inovasi kemasan biodegradable dan komposabel mulai dilirik sebagai alternatif untuk sektor pangan.
Meski demikian, adopsi plastik ramah lingkungan masih menghadapi tantangan, seperti biaya produksi yang relatif lebih tinggi serta kesiapan infrastruktur pengolahan limbah. Namun, di tengah kelangkaan bahan baku plastik konvensional saat ini, transisi ke material yang lebih berkelanjutan dinilai dapat menjadi peluang strategis bagi industri sekaligus mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan jangka panjang.
