Bayi Gajah Sumatra Lahir di Lampung, Akademisi: Bukti Pentingnya Konservasi Berkelanjutan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kelahiran seekor bayi gajah sumatra seberat 123 kilogram di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung, pada 5 Juni 2026 menjadi kabar menggembirakan bagi upaya pelestarian satwa langka di Indonesia. Kehadiran individu baru ini menambah catatan keberhasilan lembaga konservasi tersebut dalam program pengembangbiakan satwa, setelah sebelumnya berhasil mengembangbiakkan harimau sumatra.
Di tengah berbagai ancaman terhadap satwa liar, mulai dari penyusutan habitat, konflik manusia dan satwa, hingga perburuan liar, kelahiran satwa hasil program konservasi menjadi sinyal positif bagi upaya menjaga keberlangsungan spesies yang kini berstatus terancam punah.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Wisnu Nurcahyo, menilai keberhasilan tersebut merupakan pencapaian penting karena reproduksi gajah sumatra di lembaga konservasi bukan perkara mudah.
“Saya kira kelahiran bayi gajah ini merupakan suatu keberhasilan yang baik untuk kelangsungan konservasi. Gajah itu masa kehamilannya lama, bisa 18 sampai 22 bulan, sehingga pengembangbiakkannya tidak mudah dilakukan di lembaga konservasi,” ujarnya dilansir laman Universitas Gadjah Mada, Kamis (25/6).
Menurut Wisnu, salah satu tantangan terbesar dalam program pengembangbiakan satwa langka adalah menjaga keragaman genetik populasi dan menghindari perkawinan sedarah atau inbreeding.
Ia menjelaskan bahwa perkawinan sedarah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada satwa, termasuk keguguran, kelahiran prematur, hingga kematian anak.
“Kalau dari jantan dan betina itu beda, bukan saudara, itu memberikan nilai konservasi yang tinggi sehingga genetiknya baru. Keberhasilan konservasinya juga lebih tinggi. Tetapi kalau perkawinan antar saudara ini tidak bagus karena dapat mengakibatkan penyakit, abortus, prematur, dan sebagainya,” ujarnya.
BACA JUGA
- Perkuat Pemulihan Ekosistem, MIND ID Rehabilitasi 37.700 Hektare DAS hingga 2025
- Pemerintah Pertimbangkan Reaktor Nuklir Modular untuk Dukung Data Center dan AI
- Kekeringan hingga Karhutla Meningkat, BNPB Ingatkan Daerah Perkuat Kesiapsiagaan
Wisnu menilai keberhasilan program reproduksi di Lembah Hijau menunjukkan adanya pengelolaan yang baik, termasuk pengamatan intensif yang dilakukan dokter hewan dan mahout atau pawang gajah.
Keberhasilan reproduksi satwa, menurutnya, tidak hanya bergantung pada keberadaan pasangan jantan dan betina, tetapi juga kemampuan pengelola dalam memahami perilaku dan siklus reproduksi satwa.
“Berarti ada pengamatan yang dilakukan oleh dokter hewan dan pawang gajah sehingga pada saat betinanya siap dikawini dan jantannya juga mau, maka terjadi perkawinan,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa konservasi ex situ atau konservasi di luar habitat alami memiliki fungsi berbeda dengan konservasi in situ yang dilakukan langsung di alam liar.
Menurutnya, satwa yang lahir dan tumbuh di lembaga konservasi umumnya telah terbiasa dengan pola hidup yang bergantung pada pengelola sehingga tidak disarankan untuk dilepasliarkan.
“Satwa dari ex situ sangat tidak disarankan untuk dilepas di alam liar karena kehidupannya sudah mendapatkan makanan dari pengelola dan tidak bisa mencari makan sendiri,” jelasnya.
Meski demikian, keberadaan lembaga konservasi tetap memiliki peran penting sebagai sarana penyelamatan satwa sekaligus pusat edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati.
“Untuk pendidikan konservasi, eksitu ini sangat bagus karena masyarakat bisa mempelajari satwa secara langsung dan memahami bagaimana konservasi dilakukan dengan baik,” tuturnya.
Wisnu menambahkan bahwa keberhasilan pengembangbiakan satwa langka di Lembah Hijau dapat menjadi contoh bagi lembaga konservasi lainnya. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai apabila kesejahteraan satwa menjadi prioritas utama dalam pengelolaan.
Faktor seperti kualitas kandang, ketersediaan pakan, akses air, kesehatan satwa, hingga ruang gerak yang memadai menjadi elemen penting dalam mendukung keberhasilan reproduksi.
“Kalau tempatnya nyaman, pakannya tersedia, kesehatannya terjamin, air dan tempat bermain memadai, mereka akan berkembang biak dengan baik,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil dikembangbiakkan, tetapi juga dari komitmen pengelola dalam memastikan kesejahteraan satwa secara menyeluruh.
“Jangan hanya mau tiket masuknya. Jangan hanya dieksploitasi saja, tetapi pakan, kesejahteraan hewan, kesehatan, lingkungan, dan kandangnya harus diperhatikan,” pungkas Wisnu.
