Ancam Habitat Orangutan, Karhutla Hanguskan 513 Hektare Lahan di Kawasan TN Tanjung Puting
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, mengancam keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kawasan konservasi berstandar internasional ini merupakan benteng perlindungan orangutan Kalimantan sekaligus destinasi unggulan ekowisata berbasis alam.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap perlindungan habitat satwa liar terancam punah di kawasan tersebut dari paparan titik api.
“Tanjung Puting atau sekitar taman nasional, karena memang ini harus dilindungi karena ada satwa di situ,” kata Dudung setelah mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan rekapitulasi data Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, per 12 Oktober 2026, laju kebakaran baru di area TNTP telah membakar areal seluas 513,89 hektare. Luasan ini menyumbang porsi terbesar dari total 639,23 hektare pemadaman aktif yang tengah ditangani Satgas Karhutla di enam provinsi prioritas.
Eskalasi kebakaran mengancam keanekaragaman hayati yang menggantungkan hidup pada tutupan hutan rawa gambut Tanjung Puting, mulai dari orangutan, bekantan, beruang madu, hingga buaya muara.
BACA JUGA
- Pencemaran Udara Regional Memburuk, Kemenhut Fokuskan Karhutla di Kalteng
- Tawaran Bantuan Karhutla dari Malaysia dan Singapura Masih Didiskusikan Pemerintah
- Perkuat Pengelolaan Sumber Daya Air, Coca-Cola Indonesia Resmikan Perluasan Embung Doho
Operasi pemadaman di lapangan dihadapkan pada tantangan geografis dan atmosferik. Peningkatan konsentrasi kabut asap pekat membatasi jarak pandang operasional helikopter water bombing, sehingga pemadaman dari udara terkendala dan pemadaman terfokus pada pengerahan tim darat.
Di sisi lain, TNTP merupakan pusat ekowisata yang populer dengan penjelajahan menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan perahu klotok. Kendati belum ada pengumuman resmi mengenai penutupan total jalur kunjungan, para wisatawan imbau untuk terus memperbarui informasi resmi dari pihak balai taman nasional dan operator wisata setempat.
