Debit Air Menyusut Akibat El Nino, Kinerja PLTA Terganggu Hingga Defisit 650 MW
Jakarta, sustainlifetoday.com – Anomali iklim El Nino yang memicu musim kemarau panjang ber dampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi terbarukan nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa fenomena ini telah mengganggu kinerja operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di berbagai daerah akibat drastisnya penurunan debit air sungai.
Bahlil menjelaskan, susutnya volume air sungai membuat daya gerak turbin melemah, sehingga PLTA tidak dapat menggenerasi energi listrik secara optimal.
“Debit air berkurang, sungai berkurang, pasti menghasilkan listrik yang tidak maksimal. Itu yang terjadi di beberapa wilayah yang memakai PLTA,” kata Bahlil, dikutip Rabu (23/9/2026).
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa kendala pasokan listrik tersebut mulai termitigasi secara perlahan melalui penanganan terpadu dari pemerintah dan pihak terkait.
“Dan perlahan-lahan sudah mulai bisa diatasi,” ucap Bahlil.
BACA JUGA
- BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masuk Musim Hujan Mulai November 2026
- Penjualan Motor Listrik 2026 Merosot Tajam, Aismoli: Insentif Pemerintah Belum Jelas
- Jaga Hierarki Transportasi Hijau, Pemprov DKI Pertahankan Jalur Sepeda Ibu Kota
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, merinci bahwa dampak kekeringan akibat El Nino terasa sangat signifikan pada sistem kelistrikan berbasis hidro di wilayah Sulawesi bagian selatan. Penurunan curah hujan dan debit air di kawasan tersebut menyebabkan penurunan kapasitas produksi listrik hingga ratusan megawatt.
“Kondisi El Nino ini untuk PLTA itu kapasitasnya itu menjadi sangat berkurang. Sebagai contoh di Sulawesi bagian selatan itu berkurang sekitar 650 MW,” kata Darmawan.
Guna menutup defisit pasokan tersebut dan menjaga keandalan listrik masyarakat, PLN mengakselerasi penyediaan daya cadangan berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) lain, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS).
“Pada waktu musim kering, tambahan energi dari pembangkit listrik tenaga surya dengan battery energy storage system,” tuturnya.
Darmawan menambahkan bahwa koordinasi teknis dan pembenahan tata kelola operasional terus digencarkan untuk memulihkan performa PLTA di berbagai wilayah terdampak lainnya, termasuk di Pulau Kalimantan.
“Kami hadapi satu persatu. Kemudian juga ada tata kelola yang kami perbaiki sehingga ada beberapa daerah termasuk di Kalimantan ini sedang kami selesaikan satu persatu. Termasuk beberapa pembangkit,” jelasnya.
