Dampak Erupsi Anak Krakatau, BRIN Imbau Warga Tak Konsumsi Biota Laut yang Mati Mendadak
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi biota laut yang mati secara mendadak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Hujan abu, lava, batu apung, dan material vulkanik lainnya akibat erupsi dikonfirmasi dapat memperburuk kualitas air laut serta memicu gangguan ekosistem perairan secara signifikan.
Peneliti di Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa lontaran material letusan tidak hanya membuat air mengeruh, tetapi juga menaikkan suhu lokal, mengubah derajat keasaman (pH), meningkatkan partikel tersuspensi, hingga memasukkan senyawa logam dan mineral tertentu ke dalam air laut.
“Kalau konsentrasinya tinggi, ini bisa memicu kematian biota, terutama plankton, telur dan larva ikan, bentos, karang, dan organisme yang tidak bisa menghindar,” kata Reza dilansir dari Katadata, pada Senin (7/9).
Reza menggarisbawahi bahwa jangkauan dampak dapat meluas ke pesisir pulau-pulau sekitar, bergantung pada volume material, kekuatan erupsi, serta arah angin dan arus laut.
“Jika ditemukan, jangan konsumsi ikan atau biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian penyebabnya,” ujar dia.
BACA JUGA
- CESGS Apresiasi Sepuluh Perusahaan Lewat Ajang ESG Leadership Award 2026
- Pabrik BYD Subang Mulai Berproduksi, Targetkan Kapasitas 150 Ribu Unit EV
- IKATWI DKI Dorong Terapis Wicara Lebih Mandiri dalam Diagnosis dan Penanganan Apraksia Anak
Ia juga mengimbau nelayan lokal untuk meningkatkan kewaspadaan operasional. “Nelayan juga perlu waspada, karena abu dan material halus bisa mengganggu mesin kapal, jaring, dan kualitas hasil tangkapan,” ucap dia menambahkan.
Di sisi lain, Reza memaparkan bahwa abu vulkanik pada dasarnya mengandung nutrisi mineral seperti besi, silika, dan fosfor yang dapat menjadi stimulan pertumbuhan fitoplankton. Namun, dampak paparan instan dalam skala masif justru memperburuk kondisi biologis perairan.
“Tapi, kalau masuk terlalu banyak dan cepat, efek awalnya justru bisa merusak. Misalnya air keruh, oksigen turun, biota stres, bahkan mati,” kata dia.
Sementara itu, Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau bertahan di Level III (Siaga). Gunung tersebut tercatat mengalami episode erupsi menerus selama 25 jam sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, dilanjutkan dengan tiga kali erupsi Strombolian.
“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” demikian tertulis dalam laporan resmi Badan Geologi, Senin (7/9).
Pemerintah merekomendasikan agar masyarakat maupun wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi, menggunakan masker untuk meminimalisasi paparan abu vulkanik, serta mewaspadai bahaya lontaran material pijar dan awan panas. Masyarakat juga diminta untuk tetap tenang, mengabaikan rumor tsunami yang tidak berdasar, serta memantau kanal informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi.
