IKATWI DKI Dorong Terapis Wicara Lebih Mandiri dalam Diagnosis dan Penanganan Apraksia Anak
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ikatan Terapis Wicara Indonesia (IKATWI) DKI bersama Kolegium Terapis Wicara menggelar Webinar Internasional bertema “Mengenal Lebih Dalam Apraksia pada Anak” di Hotel Ciputra Jakarta pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A (K) dan Siti Munirah Haris, M.H.Sc (SLP) B.Sp.Sc (UKMalaysia) sebagai pembicara, dengan Yulidar, A.Md. T.W., M.Pd sebagai moderator.

Ketua DPW IKATWI DKI Agung Wicaksono, A.Md TW, S.Psi mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan terapis wicara dalam menangani anak dengan apraksia.
Menurutnya, pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi tersebut penting untuk meminimalisasi kesalahan dalam penetapan diagnosis maupun terapi wicara. Kesalahan dalam proses tersebut dinilai dapat berdampak pada penanganan anak dan merugikan orang tua.
“Meminimalisir kesalahan penetapan diagnosa tw atau terapi wicara dan juga berimbas pada penanganan, karena akan merugikan orang tua dan juga ke anak. Dan juga diharapkan para TW mampu menghandle dan memberikan pelayanan yang sesuai,” kata Agung.
Webinar ini menyasar para terapis wicara di seluruh Indonesia, baik yang memiliki latar belakang pendidikan Diploma III maupun Diploma IV.
Agung menilai peningkatan kapasitas terapis wicara menjadi penting karena penanganan anak dengan dugaan apraksia membutuhkan kemampuan untuk melakukan asesmen secara tepat dan menentukan program terapi yang sesuai.
BACA JUGA
- Presiden Prabowo Soroti Karhutla di Way Kambas, Kemenhut Pastikan Gajah Sumatra Aman
- Karhutla di Papua Tengah Capai 396 Hektare, Hanguskan Tujuh Distrik di Nabire
- Presiden Prabowo Ancam Cabut Izin Korporasi yang Terbukti Bakar Lahan di Riau
Selain ditujukan bagi kalangan profesional, Agung juga menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar tidak terburu-buru menyerah ketika mendapatkan diagnosis terkait kondisi anak.
“Pesan kepada masyarakat jangan cepat putus asa terhadap diagnosa. Carilah second opinion,” ujarnya.
Ke depan, IKATWI DKI berharap peningkatan kompetensi terapis wicara tidak berhenti pada kegiatan webinar. Agung mendorong agar terapis wicara memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam menetapkan diagnosis dan menyusun program terapi sesuai kompetensinya, sehingga tidak semata-mata menjalankan program berdasarkan diagnosis dari profesi lain.
“Harapannya sih supaya TW tidak hanya menjalankan program berdasarkan diagnosa profesi lain tapi juga mampu menetapkan diagnosa dan program sendiri. Dan tidak berhenti di situ saja, untuk penanganan apraksia harus dilanjutkan dengan pelatihan untuk meng-assessment anak dengan terduga apraksia,” katanya.
Menurut Agung, keberlanjutan edukasi dan pelatihan menjadi bagian penting dalam memastikan terapis wicara memiliki kemampuan yang semakin memadai dalam melakukan asesmen terhadap anak berkebutuhan khusus atau special needs. Serta mampu memberikan pelayana secara optimal.

