BMKG: Kabut Asap Karhutla Kalimantan dan Sumatra Berpotensi Sampai ke Malaysia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebaran partikulat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra berpotensi menyeberang ke negara tetangga, Malaysia.
Mengutip laman resmi Deputi Bidang Klimatologi BMKG, partikulat kabut asap yang diindikasikan melalui Aerosol Optical Depth (AOD) pada panjang gelombang 550 nm terdeteksi menyebar dalam konsentrasi sedang hingga pekat. Nilai AOD diukur pada skala 0,0-1,0, di mana semakin tinggi nilai AOD maka semakin besar potensi kabut asap tersebar di suatu wilayah.
Kondisi tersebut selaras dengan prediksi BMKG dalam prakiraan cuaca Indonesia periode 4-10 Agustus 2026. Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak, Malaysia.
BACA JUGA
- Ancaman Karhutla Meningkat, Kemenhut Perkuat Pengawasan Berbasis Data Real-Time
- Risiko Kesehatan Mental Anak dan Pemuda Melonjak Akibat Kenaikan Suhu Ekstrem
- AESI Sebut Target PLTS 100 GW dalam Tiga Tahun Belum Realistis
Sementara itu di dalam negeri, sebanyak 42 kabupaten/kota diprediksi diselimuti kabut asap dengan nilai maksimum AOD harian lebih dari 0,5 pada Selasa (11/8). Lima wilayah dengan konsentrasi terpekat antara lain:
- Kayong Utara, Kalimantan Barat (AOD maksimum 3,31)
- Landak, Kalimantan Barat (AOD maksimum 3,09)
- Kubu Raya, Kalimantan Barat (AOD maksimum 2,97)
- Sanggau, Kalimantan Barat (AOD maksimum 2,91)
- Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (AOD maksimum 2,89)

Melansir laporan South China Morning Post, kabut asap akibat kebakaran lahan dilaporkan telah menyelimuti Distrik Serian di wilayah selatan Sarawak dengan level kualitas udara tidak sehat sejak Senin (10/8). Indeks Polusi Udara (IPU) di distrik tersebut menembus angka 182 atau masuk dalam kategori ‘tidak sehat’. Pemerintah Negara Bagian Sarawak mengimbau warga setempat untuk mengurangi dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
“Ini bukan masalah yang terjadi sekali saja. Ini terjadi hampir setiap tahun dan sebagian besar berasal dari seberang perbatasan, karena aktivitas di luar kendali kami,” kata Wakil Menteri Transportasi negara bagian Sarawak, Henry Harry Jinep, dikutip dari South China Morning Post, pada Selasa (11/8).
Dampak polusi lintas batas (cross-border haze) ini juga dirasakan di wilayah lain. Distrik Johan Setia di Selangor—yang berhadapan secara geografis di timur laut Provinsi Riau—mencatatkan indeks polusi udara sebesar 152 atau berada pada level ‘tidak sehat’.
Badan Meteorologi Malaysia turut mengeluarkan peringatan atas ancaman cuaca panas serta minimnya curah hujan sepanjang pekan ini yang berisiko memperburuk eskalasi kabut asap.
“Angin selatan dan banyaknya titik panas di negara tetangga berpotensi menyebabkan kabut asap lintas batas dan mengurangi jarak pandang, terutama di selatan Sarawak,” demikian keterangan resmi dari badan tersebut.
