PDSI Tegaskan Keselamatan Kerja Jadi Syarat Mutlak Capai Target ESG
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) menegaskan bahwa keandalan sistem operasional dan keselamatan kerja merupakan prasyarat mutlak untuk menjalankan inisiatif keberlanjutan atau ESG di industri energi nasional. Pernyataan tersebut ditekankan oleh Direktur Utama PDSI, Avep Disasmita, dalam paparannya pada Diskusi Nasional Online yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Petroleum Balongan (ITPB), Rabu (22/7).
Avep menjelaskan, industri energi saat ini memikul mandat ganda untuk mengakselerasi produksi migas nasional namun harus tetap memastikan operasi yang aman dengan target perlindungan mutlak nyawa pekerja atau zero harm.
Untuk merealisasikan hal itu, Avep mengatakan jika PDSI menerapkan kerangka kerja keselamatan berkelanjutan bertajuk “Salam Lima Jari 4.2” guna mengantarkan budaya perusahaan menuju kondisi keselamatan yang generatif.
Implementasi ketat di lapangan terbukti berhasil menekan angka kecelakaan kerja atauTotal Recordable Incident Rate (TRIR) secara signifikan dari 1,69 pada tahun 2015 menjadi 0,31 pada akhir tahun 2025.
Tingginya kedisiplinan ini berakar dari kepemimpinan eksekutif yang menjamin keselamatan psikologis pekerja di lapangan melalui mandat Stop Work Authority (SWA).
“Siapapun berhak menghentikan pekerjaan yang tidak aman dengan menunjukkan kartu ini. Saya sebagai top management akan mendukung penuh,” tegas Avep.
Avep mengatakan, fondasi mitigasi risiko tanpa kecelakaan dan tanpa tumpahan lingkungan (Zero Spill) inilah yang menjadi modal dasar PDSI untuk menciptakan nilai keberlanjutan (Creating Future Value). Peningkatan keamanan operasional tersebut kini turut ditopang oleh pengawasan cerdas berbasis kecerdasan buatan, seperti Dashcam AI, CCTV AI, dan Real-Time Operation (RTO).
PDSI juga menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 3.440 Ton CO2eq pada tahun 2026 guna mendukung target dekarbonisasi Pertamina Group. Target ini didorong oleh sejumlah inisiatif kunci, di antaranya adalah penerapan Rig Hybrid atau Dual Gas Blending System yang mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dengan mencampur gas alam untuk menurunkan konsumsi diesel secara signifikan.
BACA JUGA
- PalmCo Desak Kejelasan Status Kawasan Hutan ke Pemerintah Demi Praktik Sawit Berkelanjutan
- India Pastikan Keamanan BBM Etanol E20, Indonesia Targetkan E10 pada 2027
- Muhammadiyah Dorong Penyelamatan Lingkungan Jadi Standar Baru Keberhasilan Dakwah
Selain itu, PDSI juga melakukan sinkronisasi E-PEPSI (Integrated Power) pada sistem kelistrikan Rig yang diklaim mampu memangkas emisi hingga 2.879,4 Ton CO2eq dengan menghilangkan kapasitas menganggur (idle capacity) pada generator diesel.
Komitmen PDSI juga diwujudkan melalui program pemberdayaan ekonomi sirkular masyarakat. Perusahaan menginisiasi program Gear Upcycling Drilling (GUD) yang mengolah limbah pakaian kerja (coverall) bekas menjadi tas dan sepatu bernilai ekonomi dengan melibatkan penjahit perempuan dan UMKM lokal.
Di sektor kesehatan, PDSI membangun fasilitas filtrasi air bertenaga surya untuk mengolah air danau bekas tambang di Muara Sanga-Sanga, Kalimantan Timur, agar layak memenuhi kebutuhan warga.
Selain itu, perusahaan secara aktif menanam 500 bibit mangrove di Pulau Pari yang tidak hanya mereduksi emisi karbon, tetapi juga terbukti meningkatkan pendapatan petani lokal sebesar 23 persen.
Pemaparan dari PDSI ini merupakan bagian dari rangkaian Diskusi Nasional Online yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Petroleum Balongan (ITPB) Indramayu pada Rabu, 22 Juli 2026.
Mengusung tema “Integrasi SMS-ESG Terhadap Sustainability Performance Industri Energi Nasional”, acara yang dibuka oleh Rektor ITPB Hanifah Handayani ini menjadi wadah strategis bagi para pemangku kepentingan.
