Populasi Kerbau Terus Menurun, IPB Soroti Pentingnya Pendekatan Budaya
Jakarta, sustainlifetoday.com – Populasi kerbau di Indonesia terus menghadapi tekanan seiring modernisasi sektor pertanian yang mengurangi perannya sebagai tenaga kerja di lahan sawah. Di tengah kondisi tersebut, pelestarian kerbau dinilai perlu dilakukan tidak hanya melalui pendekatan peternakan, tetapi juga dengan memperkuat nilai budaya dan tradisi yang telah lama melekat di masyarakat.
Guru Besar IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengatakan kerbau memiliki nilai lebih dari sekadar hewan ternak karena menjadi bagian dari sejarah dan identitas berbagai komunitas di Indonesia.
“Konservasi kerbau lewat jalur budaya lebih dekat karena ikatan emosional. Kerbau bukan sekadar ternak, tetapi juga bagian dari identitas bersama. Tradisi adat mengajak komunitas untuk berpartisipasi secara sukarela sehingga memperkuat kebersamaan,” ujar Ronny dikutip dari website IPB University, Kamis (16/7).
Menurut Ronny, penurunan populasi kerbau dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah mekanisasi pertanian yang membuat traktor menggantikan fungsi kerbau sebagai tenaga pengolah sawah.
Selain itu, alih fungsi lahan akibat urbanisasi turut mengurangi kawasan sawah dan rawa yang menjadi habitat utama kerbau. Di sisi lain, minat generasi muda untuk beternak kerbau juga terus menurun karena dinilai kurang menjanjikan secara ekonomi dibandingkan komoditas peternakan lainnya.
“Peternak merasa minat generasi muda untuk beternak kerbau cenderung menurun karena dianggap kurang menguntungkan. Sementara itu, kebijakan pemerintah lebih banyak berfokus pada pengembangan sapi potong dan unggas yang dinilai memiliki prospek ekonomi lebih jelas,” kata Ronny.
BACA JUGA
- IDSurvey dan Danantara Kolaborasi Kembangkan Pengolahan Sampah Terintegrasi
- BPDP Siap Dukung Subsidi Solar Rp15 Ribu untuk Kapal Nelayan
- Bakom: TPA Berpotensi Lumpuh pada 2028 Jika Pengelolaan Sampah Tak Dibenahi
Ia menilai pelestarian kerbau perlu dibarengi dengan penguatan nilai ekonomi melalui pengembangan produk berbasis kerbau, seperti susu, daging, maupun kerajinan dari tanduk. Selain itu, peningkatan kualitas populasi dapat dilakukan melalui inseminasi buatan dan program pemuliaan genetik.
Menurut Ronny, edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat sejak dini melalui festival budaya, kurikulum berbasis kearifan lokal, hingga wisata edukasi yang mengenalkan sejarah dan nilai budaya kerbau. Upaya tersebut juga perlu didukung dengan perluasan kawasan konservasi kerbau rawa di daerah endemik guna menjaga habitat alaminya.
Ia menjelaskan, kerbau (genus Bubalus) berasal dari nenek moyang keluarga Bovidae di Asia sekitar satu hingga dua juta tahun lalu. Hewan ini mulai didomestikasi sekitar 5.000–6.000 tahun lalu di Asia Selatan sebelum menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, melalui jalur perdagangan dan migrasi.
“Kerbau masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari India dan Indochina, kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Kerbau dimanfaatkan sebagai tenaga kerja di sawah, simbol status sosial, hingga hewan untuk berbagai ritual adat,” ujarnya.
Sebelum mekanisasi pertanian berkembang, kerbau menjadi penopang utama aktivitas pertanian di berbagai daerah. Hewan ini juga memiliki peran penting dalam sejumlah tradisi, seperti ritual memandikan kerbau sebelum musim tanam, upacara Rambu Solo di Tana Toraja, tradisi Kwangkey masyarakat Dayak, hingga menjadi simbol dalam budaya Minangkabau.
Selain menghadapi penurunan populasi, kerbau juga rentan terhadap berbagai penyakit, seperti Septicaemia epizootica, malignant catarrhal fever (MCF), surra, fasciolosis, dan enterotoxemia. Risiko tersebut diperbesar oleh kondisi lingkungan rawa, keberadaan serangga pembawa penyakit, serta pengelolaan kandang yang belum optimal.
Karena itu, Ronny menilai pelestarian kerbau penting dilakukan tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan sektor peternakan, tetapi juga melestarikan warisan budaya Indonesia.
“Kerbau adalah bagian berharga dari warisan budaya Indonesia. Meski jumlahnya menurun akibat modernisasi dan perubahan sosial, pelestarian melalui tradisi, ritual, dan nilai-nilai budaya menjadi cara terbaik agar kerbau tetap menjadi bagian dari identitas bangsa,” ujarnya.
