Pemerintah Pertimbangkan Reaktor Nuklir Modular untuk Dukung Data Center dan AI
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah mulai mempertimbangkan pemanfaatan reaktor nuklir modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) sebagai bagian dari bauran energi nasional. Teknologi ini dinilai berpotensi mendukung kebutuhan listrik yang terus meningkat, terutama untuk sektor pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang membutuhkan pasokan energi besar dan stabil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai pembangunan SMR saat ini tengah berlangsung. Menurutnya, pengembangan energi nuklir sejalan dengan upaya diversifikasi sumber energi nasional.
“Dan sekarang kita juga sedang dalam pembicaraan untuk pembangunan small modular nuclear reactor. Sebetulnya Bapak Presiden ingin agar energy mix ini juga memasukkan nuklir,” kata Airlangga Hartarto dalam peringatan 1 Dekade Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) di Jakarta, Selasa (24/6).
Airlangga menjelaskan, ketersediaan energi menjadi faktor utama dalam pengembangan pusat data. Selain membutuhkan kapasitas listrik yang besar, industri ini juga memerlukan pasokan listrik yang andal untuk menjaga operasional layanan digital tanpa gangguan.
Dalam persaingan menarik investasi pusat data di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena didukung sumber daya energi domestik yang beragam, mulai dari panas bumi, tenaga air, hingga energi surya.
“Kunci daripada data center adalah energi, terutama renewable energy. Indonesia diuntungkan karena memiliki energi domestik seperti geotermal, solar panel, dan hidro,” ujarnya.
BACA JUGA
- TVS Indonesia Raih Sertifikasi Platinum GreenCo untuk Praktik Manufaktur Berkelanjutan
- Gaikindo: Penjualan Mobil Listrik Naik 80 Persen, Segmen LCGC Melemah
- PLN Indonesia Power Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Lewat MAGBIO
Seiring pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi teknologi AI, kebutuhan kapasitas pusat data nasional diproyeksikan terus meningkat. Saat ini, kapasitas pusat data Indonesia tercatat mendekati 637 megawatt.
“Sekarang memang kapasitas (pusat data) kita mendekati 637 megawatt,” kata Airlangga.
Menurutnya, sejumlah proyek pusat data baru yang sedang dikembangkan berpotensi menambah kapasitas hingga lebih dari 1,6 gigawatt, terutama di Pulau Jawa. Kondisi ini membuat kebutuhan pasokan energi jangka panjang menjadi semakin penting.
Airlangga menilai posisi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di ASEAN menjadi daya tarik tersendiri bagi investor global. Selain itu, implementasi Digital Economic Framework Agreement (DEFA) ASEAN diperkirakan akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi digital kawasan.
Dalam konteks tersebut, keandalan pasokan listrik menjadi salah satu pertimbangan utama investor dalam menentukan lokasi pembangunan pusat data.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryaputra. Menurutnya, kebutuhan listrik yang sangat besar membuat energi nuklir mulai dipertimbangkan sebagai salah satu opsi pasokan energi bagi industri pusat data global.
Hendra menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat (hub) data center Asia Pasifik karena didukung sistem kelistrikan yang relatif kuat di Pulau Jawa, ketersediaan talenta digital, serta potensi pengembangan energi baru.
“Kenapa Indonesia jadi sangat menarik dan bisa jadi data center hub Asia Pasifik, sebenarnya kalau kita boleh jujur, nuklir tuh sangat menarik, ya. Tapi memang banyak yang nggak suka kalau kita melakukan pendekatan energi di data center pakai nuklir,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui pemanfaatan energi nuklir masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari aspek politik hingga persepsi publik. Padahal, sejumlah negara telah menunjukkan bahwa energi nuklir dapat menjadi sumber listrik yang andal untuk mendukung sektor industri dan transformasi digital.
Sebagai contoh, Hendra menyebut Prancis yang sebagian besar kebutuhan listriknya dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga nuklir.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi SMR yang dinilai lebih fleksibel dan memiliki tingkat keselamatan lebih tinggi dibandingkan reaktor nuklir konvensional. Salah satu inovasi yang mulai banyak dikembangkan adalah SMR berbasis thorium.
“Dan sekarang ada namanya small modular reactor yang pakai thorium sebagai inti reaktornya, sehingga jauh lebih mengurangi risiko meledak,” ujarnya.
Pengembangan SMR dinilai dapat menjadi salah satu opsi dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi digital yang semakin berkembang. Selain membuka peluang diversifikasi energi rendah emisi, teknologi ini juga berpotensi menyediakan pasokan listrik yang stabil bagi sektor-sektor dengan kebutuhan energi tinggi, termasuk pusat data dan AI.
