SUSTAIN: Diversifikasi Energi Jadi Kunci Cegah Pemadaman Listrik Massal
Jakarta, sustainlifetoday.com – Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) menilai pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa baru-baru ini menjadi pengingat penting akan perlunya diversifikasi sumber energi nasional. Menurut SUSTAIN, dominasi batu bara dalam sistem kelistrikan Indonesia membuat ketahanan energi rentan terhadap gangguan pasokan maupun masalah teknis.
SUSTAIN mencatat kebutuhan batu bara domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) saat ini telah mencapai sekitar 220 juta metrik ton. Angka tersebut disebut jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan pada akhir pemerintahan sebelumnya dan terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi listrik nasional.
Menurut lembaga tersebut, ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara berpotensi menimbulkan risiko pasokan energi dalam jangka panjang. Meski Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat dinilai dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah perbedaan harga batu bara DMO dan harga pasar global.
Menanggapi kondisi tersebut, SUSTAIN menilai perbaikan teknis saja tidak cukup untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional. Dalam riset terbarunya bertajuk SUSTAIN Brief Vol. 4: Unlocking Solar Energy Demand: Peran Strategis PLTS Atap dan Power Wheeling dalam Mencapai Target 100 GW Energi Surya, lembaga tersebut menawarkan percepatan pengembangan energi surya sebagai salah satu solusi strategis.
Direktur Eksekutif SUSTAIN Tata Mustasya mengatakan permintaan listrik dari rumah tangga maupun sektor industri dapat menjadi pendorong utama pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia.
“Dalam perhitungan, kami menggunakan skenario akseleratif dengan proyeksi tambahan kapasitas energi surya yang berpotensi mencapai sekitar 11,4 GWp dalam waktu relatif singkat. Hal ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target pembangunan PLTS nasional sebesar 17 GW dalam tiga tahun tanpa semakin membebani keuangan negara,” kata Tata dikutip pada Senin (22/6).
Menurut Tata, terdapat dua langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko pemadaman listrik massal di masa depan.
BACA JUGA
- BRIN Identifikasi Rhododendron Yombuwurii, Tanaman Baru dari Hutan Sulawesi
- Pemerintah Kebut Rehabilitasi Sungai dan Infrastruktur Terdampak Bencana di Sumatra
- KLH Dorong Pembasahan Gambut untuk Kurangi Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan
Langkah pertama adalah mendorong desentralisasi sistem kelistrikan melalui pengembangan PLTS atap. Skema ini dinilai dapat memberikan kesempatan bagi rumah tangga, sektor komersial, maupun industri untuk memproduksi listrik secara mandiri.
Tata menilai pemerintah dapat memperkuat upaya tersebut melalui dukungan regulasi dan insentif yang mendorong adopsi energi surya secara lebih luas.
“Ini menciptakan bantalan (buffer) energi yang kuat pada tingkat tapak,” ujarnya.
Selain PLTS atap, SUSTAIN juga mendorong implementasi skema power wheeling, yaitu pemanfaatan jaringan transmisi listrik secara bersama oleh produsen energi terbarukan untuk menyalurkan listrik kepada konsumen.
Menurut SUSTAIN, banyak industri saat ini memiliki kebutuhan untuk menggunakan energi bersih sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan mereka. Namun, keterbatasan pasokan energi hijau menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi.
Melalui skema power wheeling, produsen listrik berbasis energi surya dapat menyalurkan energi bersih kepada pelanggan industri menggunakan jaringan transmisi yang telah tersedia. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat pengembangan energi terbarukan sekaligus mengurangi tekanan investasi pada sistem pembangkitan konvensional.
“Kita tidak bisa terus menggantungkan nasib kelistrikan jutaan warga dan industri pada segelintir pembangkit besar berbasis fosil. Jika satu titik transmisi atau pasokan hulu bermasalah, dampaknya langsung melumpuhkan satu pulau,” kata Tata.
Ia menambahkan bahwa Pulau Jawa sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional membutuhkan sistem energi yang lebih tangguh dan beragam untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Kunci agar pemadaman bergilir tidak terulang kembali adalah desentralisasi melalui PLTS atap dan fleksibilitas jaringan melalui power wheeling,” kata Tata.
SUSTAIN pun mendorong pemerintah untuk mempercepat penyusunan regulasi yang mendukung pengembangan PLTS atap dan implementasi power wheeling sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional, sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan.
