BNPB Ingatkan Risiko Banjir dan Longsor Meningkat di Masa Peralihan Musim
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada Sabtu (16/5) hingga Minggu (17/5). Bencana hidrometeorologi tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi di berbagai daerah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan longsor terjadi di Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Jumat lalu akibat hujan deras yang menyebabkan tebing runtuh.
“Peristiwa ini mengakibatkan dua warga meninggal dunia akibat tertimbun material longsor, sementara tiga warga lainnya berhasil selamat,” ungkap Abdul dalam keterangannya, Senin (18/5).
Tim SAR gabungan langsung melakukan evakuasi korban meninggal dunia dan mengantarkannya ke rumah duka.
Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Abdul menjelaskan hujan berintensitas tinggi selama empat jam di Kecamatan Matangnga menyebabkan kondisi tanah menjadi labil hingga memicu longsor di Desa Katimbang dan Kelurahan Matangnga.
“Curah hujan tersebut kemudian menyebabkan kondisi tanah menjadi labil hingga memicu longsor sekira pukul 16.00 WITA di Desa Katimbang dan Kelurahan Matangnga, Kecamatan Matangnga,” papar dia.
BACA JUGA
- Bank Mandiri Salurkan Sembako untuk 28 Ribu Pekerja Informal dan Masyarakat Prasejahtera
- Gereja Katedral Jakarta Ajak Umat Jaga Lingkungan di Hari Kenaikan Yesus Kristus
- Banjir dan Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah, BNPB Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Sebanyak 80 kepala keluarga terdampak dalam kejadian tersebut. Selain itu, satu fasilitas pendidikan, lahan persawahan seluas sekitar 51 hektare, dan satu akses jalan turut terdampak longsoran.
BPBD setempat telah menurunkan Tim Reaksi Cepat untuk melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak serta berkoordinasi dengan instansi terkait guna mendukung upaya penanganan lanjutan.
Sementara itu, banjir menerjang Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada Sabtu lalu akibat tingginya curah hujan di wilayah hulu yang menyebabkan debit Sungai Mentaya meningkat dan meluap ke permukiman warga.
“Sebanyak 139 KK terdampak banjir luapan tersebut. Selain itu, ada 122 unit rumah terendam banjir termasuk tiga fasilitas ibadah dan enam fasilitas pendidikan,” kata dia.
Wilayah terdampak meliputi Desa Sungai Hanya di Kecamatan Antang Kalang, Desa Tumbang Mujam di Kecamatan Tualan Hulu, Desa Tumbang Sungai di Kecamatan Telaga Antang, serta Desa Tanjung Jariangau, Desa Bawan, dan Desa Kawan Batu di Kecamatan Mentaya Hulu.
BNPB memastikan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur telah mengerahkan personel ke lokasi terdampak, melakukan koordinasi lintas instansi, dan mengumpulkan dokumen pendukung untuk penanganan lanjutan.
Banjir juga terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan akibat hujan deras yang menyebabkan sejumlah sungai meluap hingga merendam permukiman dan area persawahan.
“Banjir mengakibatkan 1.260 KK atau 3.790 jiwa terdampak. Wilayah terdampak tersebar di empat kelurahan dan satu desa di dua kecamatan, yakni Desa Tana Toro di Kecamatan Pitu Riase, serta Kelurahan Toddang Pulu, Arateng, Baula, dan Amparita di Kecamatan Tellu Limpoe,” jelas Abdul.
BPBD Kabupaten Sidrap melaporkan banjir merendam 1.260 rumah, dua sekolah, tanggul jebol, lahan persawahan seluas 17 hektare, jalan, hingga kantor pemerintahan. Tim gabungan telah dikerahkan untuk membantu warga terdampak.
“Langkah yang dilakukan meliputi kaji cepat, perbaikan tanggul, hingga membantu warga terdampak banjir. Kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut pada Sabtu,” tutur dia.
Selain banjir dan longsor, cuaca ekstrem juga melanda Kota Sukabumi, Jawa Barat. Kejadian tersebut berdampak pada sedikitnya tujuh kelurahan di tiga kecamatan, yakni Kelurahan Baros di Kecamatan Baros, Kelurahan Tipar di Kecamatan Citamiang, serta Kelurahan Dayeuhluhur, Nyomplong, Benteng, Warudoyong, dan Sukakarya di Kecamatan Warudoyong.
Sebanyak 12 kepala keluarga atau 36 jiwa terdampak akibat cuaca ekstrem tersebut. Kerugian materiil yang dilaporkan meliputi sembilan rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, tiga akses jalan terdampak, dan satu fasilitas umum turut mengalami kerusakan.
Abdul mengingatkan memasuki periode peralihan musim, peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Kondisi tanah yang jenuh air di daerah lereng dan perbukitan, ditambah sistem drainase yang kurang optimal, memperbesar risiko bencana.
“BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana diimbau untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi seperti BMKG dan BNPB, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila muncul tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, suara gemuruh dari arah lereng, atau kenaikan muka air sungai secara cepat,” ucap Abdul.
Di samping itu, pemerintah daerah diminta memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal, menyiapkan jalur evakuasi dan logistik darurat, serta meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
