PSEL Dinilai Berpotensi Timbulkan Polusi Baru dan Hambat Target Net Zero Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata, Benediktus Danang Setianto atau Benny, mengatakan pengembangan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) memang menjadi bagian dari upaya Indonesia mencari sumber energi alternatif sekaligus mengatasi persoalan sampah nasional. Namun, menurutnya, teknologi yang digunakan perlu diperhatikan agar tidak memunculkan persoalan lingkungan baru.
Benny menjelaskan terdapat dua metode utama dalam produksi energi berbasis sampah. Metode pertama dilakukan dengan menghimpun gas metana dari timbunan sampah untuk kemudian dimanfaatkan sebagai energi.
“Jadi gasnya itu dikumpulkan, kemudian dipompa, ditampung untuk menjadi energi,” kata Benny dilansir Republika, Senin (18/5).
Sementara metode kedua adalah insinerasi atau pembakaran sampah menggunakan mesin insinerator. Menurut Benny, teknologi ini dinilai lebih murah dibandingkan metode penghimpunan gas metana.
“Tapi insinerator itu kalau kita tempatkan dalam kerangka ingin mencapai net zero emission, maka itu menciptakan polusi udara baru juga. Ya mau tidak mau (menggunakan) gas metana, tapi teknologinya mahal,” ujar Benny.
BACA JUGA
- Bank Mandiri Salurkan Sembako untuk 28 Ribu Pekerja Informal dan Masyarakat Prasejahtera
- Gereja Katedral Jakarta Ajak Umat Jaga Lingkungan di Hari Kenaikan Yesus Kristus
- Merdeka Copper Gold Perluas Energi Terbarukan dan Reklamasi Tambang Sepanjang 2025
Ia menambahkan, pengelolaan PSEL berbasis gas metana juga menghadapi tantangan lain, yakni pengolahan lindi atau cairan hasil timbunan sampah yang selama ini dinilai belum tertangani secara optimal.
“Kenapa air sampah itu belum bisa diolah dengan baik? Karena kembali lagi, proses kita memasukkan sampah ke TPA masih acakadul,” ucap Benny.
Menurut dia, PSEL memang memiliki manfaat dalam mengurangi timbunan sampah yang terus meningkat di berbagai daerah. Namun, implementasinya harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, dampak emisi, hingga aspek keekonomian.
” Tapi apakah skala keekonomiannya itu sudah memenuhi, kemudian teknologinya sudah benar-benar proven? Nah itu yang juga harus kita hati-hati,” ujarnya.
Benny menilai pengembangan PSEL perlu tetap dikawal agar sejalan dengan target Indonesia mencapai emisi nol bersih atau net zero emission pada 2060. Di satu sisi, teknologi ini mampu membantu mengurangi volume sampah nasional, tetapi di sisi lain juga berpotensi menghasilkan emisi tambahan apabila tidak dikelola dengan teknologi yang tepat.
