Indonesia Peringkat Kedua Penyumbang Emisi Metana Energi Fosil di Asia Selatan dan Tenggara
Jakarta, sustainlifetoday.com – Indonesia menempati posisi kedua di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan dalam hal emisi metana dari sektor bahan bakar fosil. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru International Energy Agency bertajuk Global Methane Tracker 2026 yang dirilis awal Mei lalu.
Laporan tersebut memperkirakan emisi metana Indonesia pada 2025 mencapai lebih dari 3 juta ton, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor batu bara. Sisanya berasal dari industri minyak bumi dan gas.
Indonesia berada tepat di bawah India yang diperkirakan menghasilkan hampir 4 juta ton emisi metana dari sektor energi fosil.
Metana sendiri merupakan salah satu gas rumah kaca paling berbahaya setelah karbon dioksida. Gas ini memiliki kemampuan menjebak panas di atmosfer dalam jumlah besar melalui proses radiative forcing, sehingga mempercepat pemanasan global.
Selain berdampak pada iklim, metana juga memicu pembentukan ozon troposfer atau ozon di lapisan bawah atmosfer yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kebocoran metana juga disebut dapat meningkatkan risiko ledakan pada fasilitas energi.
Secara keseluruhan, sektor bahan bakar fosil di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan diperkirakan menghasilkan sekitar 13 juta ton emisi metana sepanjang 2025. Dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut disebut terus meningkat seiring naiknya permintaan energi dan produksi bahan bakar fosil.
“Namun, produksi bahan bakar fosil dan emisi metana terkait di kawasan ini diharapkan mulai turun di tahun-tahun mendatang,” begitu tertulis dalam laporan IEA.
Secara global, IEA memperkirakan emisi metana dari sektor bahan bakar fosil mencapai 124 juta ton pada 2025 atau sekitar 35 persen dari total emisi metana buatan manusia. Produksi minyak menjadi penyumbang terbesar dengan 45 juta ton, disusul batu bara 43 juta ton, dan gas alam 36 juta ton.
BACA JUGA
- BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Sepekan, Hujan Lebat hingga Petir Ancam Sejumlah Wilayah
- Delapan Macan Tutul Jawa Terdeteksi di Bromo Tengger Semeru
- Saat Dunia Krisis Avtur, Emisi Jet Pribadi Orang Kaya Malah Naik
Laporan tersebut juga mencatat sekitar 20 juta ton emisi lainnya berasal dari produksi dan konsumsi bioenergi, terutama dari pembakaran biomassa tradisional yang masih banyak digunakan untuk memasak dan pemanas di negara berkembang.
Sebanyak 70 persen emisi metana sektor fosil global berasal dari 10 negara penghasil emisi terbesar dunia. Cina menempati posisi pertama dengan lebih dari 25 juta ton emisi metana, diikuti Amerika Serikat, Rusia, Iran, Turkmenistan, India, Venezuela, Indonesia, Kazakstan, dan Irak.
Meski menjadi salah satu penghasil emisi metana terbesar di kawasan, Indonesia dan India disebut memiliki catatan yang relatif lebih baik dalam hal intensitas emisi, khususnya di sektor batu bara.
Intensitas emisi menunjukkan seberapa besar emisi metana yang dihasilkan dalam proses produksi energi fosil. Dalam laporan IEA, perhitungan dilakukan dengan membandingkan total emisi metana dari kegiatan hulu dengan total produksi migas atau batu bara.
“In India and Indonesia, intensitas emisi (dalam produksi batu bara) di bawah rata-rata global,” demikian tertulis.
Meski begitu, IEA menilai intensitas emisi metana dari sektor minyak dan gas di Asia Tenggara masih berada di kisaran rata-rata global. Malaysia dan Brunei disebut memiliki intensitas lebih rendah karena banyak fasilitas migasnya berada di wilayah lepas pantai.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa sebagian besar emisi metana sebenarnya dapat ditekan menggunakan teknologi yang sudah tersedia saat ini. IEA memperkirakan sekitar 70 persen emisi metana dari bahan bakar fosil atau setara hampir 85 juta ton dapat dikurangi melalui langkah mitigasi yang sudah ada.
Di sektor pertambangan batu bara, emisi dapat ditekan melalui penangkapan dan pemanfaatan gas metana, atau menggunakan teknologi oksidasi. Sementara pada sektor minyak dan gas, pengurangan emisi dapat dilakukan melalui teknologi vapour-recovery units untuk menangkap aliran metana bertekanan rendah yang biasanya terbuang ke atmosfer.
Bahkan menurut perhitungan IEA, pengendalian lebih dari 35 juta ton emisi metana berpotensi memberikan keuntungan ekonomi.
“Hal ini karena biaya investasi dan operasional untuk menekan emisi lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi gas yang ditangkap dan kemudian dijual atau dimanfaatkan kembali,” demikian tertulis.
