Dua Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dua anak Harimau Sumatera lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Kementerian Kehutanan menyebut kedua bayi harimau tersebut lahir dari indukan jantan bernama Kyai Batua dan betina bernama Sinta.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan kedua indukan merupakan satwa hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.
“Keberhasilan ini menjadi catatan penting sebagai kelahiran pertama harimau sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung,” kata Ristianto dalam keterangannya, Selasa (5/5).
Berdasarkan pengawasan dan pendampingan ketat tim medik veteriner Taman Satwa Lembah Hijau, kedua anak harimau disebut tumbuh dan berkembang dengan baik pada usia tiga bulan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, mengapresiasi keberhasilan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap program konservasi harimau sumatera.
“Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan LK Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi Harimau Sumatera. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat,” jelas Agung Nugroho.
BACA JUGA
- Prabowo Janjikan Rumah Murah untuk Buruh hingga Nelayan dengan Cicilan Bunga Rendah
- Prabowo akan Resmikan Museum Marsinah untuk Kenang Perjuangan Hak Buruh
- Prabowo Janji Pembagian Pendapatan Ojol Naik hingga 92 Persen
Ia menambahkan keberhasilan tersebut diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam perlindungan satwa liar, terutama terhadap ancaman jerat dan perburuan ilegal.
Kyai Batua sendiri diselamatkan tim BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Tim Reaksi Cepat Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada Juli 2019 di wilayah Lampung Barat dalam kondisi terjerat.
Akibat luka serius pada kaki depan kanan, harimau jantan tersebut harus menjalani amputasi.
Sementara itu, Sinta diselamatkan dari wilayah Bengkulu pada Desember 2024 dengan kondisi cedera berat akibat jerat dan mengalami cacat pada kaki belakang kanan.
Kemenhut menyebut perkawinan kedua harimau dilakukan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV Tahun 2024/2025 yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia.
Komisaris Utama Lembaga Konservasi Taman Satwa PT Lembah Hijau, M Irwan Nasution, menilai kelahiran ini menjadi bukti keberhasilan pengelolaan satwa hasil penyelamatan.
“Keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil penyelamatan tetap memiliki potensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi harimau sumatera,” tuturnya.
Menurutnya, pihak pengelola akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa berdasarkan prinsip kesejahteraan satwa atau animal welfare sekaligus mendukung program konservasi populasi satwa liar.
Kemenhut menilai kelahiran dua anak harimau tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan populasi, tetapi juga memiliki nilai strategis untuk edukasi, penelitian, serta penguatan kesadaran publik terkait pentingnya pelestarian satwa liar.
