Danantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk Proyek Sampah Jadi Listrik
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, mengatakan pihaknya memprioritaskan penggunaan teknologi yang telah terbukti dalam pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Dalam konferensi pers bersama Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, ia mengungkapkan pemerintah telah menetapkan 20 wilayah aglomerasi di 47 kabupaten/kota sebagai prioritas investasi PSEL.
“Kita terbuka untuk teknologi lain. Pada dasarnya kita terbuka, tetapi yang penting memang kita memprioritaskan teknologi yang sudah terbukti berjalan baik di banyak negara di seluruh dunia. Itu tentunya kita berikan prioritas,” ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Danantara, Jakarta, Selasa (14/4).
Presiden Prabowo Subianto disebut meminta penanganan wilayah dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari untuk diprioritaskan dalam proyek PSEL. Sebanyak 20 wilayah tersebut telah memenuhi syarat tahap awal dan memperoleh keputusan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Sementara itu, kota dengan timbulan sampah 500–1.000 ton per hari belum memenuhi kriteria utama sesuai Peraturan Presiden yang menetapkan ambang batas prioritas di atas 1.000 ton per hari. Saat ini, terdapat tujuh wilayah aglomerasi di 26 kabupaten/kota dalam kategori tersebut berdasarkan hasil pemantauan tim gabungan.
BACA JUGA
- Perang Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Emisi Hingga Jutaan Ton!
- Prabowo Resmikan Pabrik Bus Listrik Pertama RI di Magelang
- Dorong Transisi Energi, Prabowo Targetkan Produksi Avtur dari Sawit dan Minyak Jelantah
“Untuk pemanfaatan teknologi lain tetap terbuka. Yang penting pekerjaan ini bisa dilakukan dengan baik, cepat, dan yang paling penting diterima masyarakat, terutama di lingkungan tempat pengelolaan sampah itu akan dilakukan,” ucapnya.
“Alatnya bisa dari negara Jepang, Korea, Belanda, China, dan juga nanti ada produk dari dalam negeri,” kata Rosan.
Sebelumnya, Danantara Investment Management menyiapkan investasi besar untuk proyek PSEL atau waste-to-energy (WTE) di sejumlah kota di Indonesia. Lead of waste-to-energy sekaligus Director of Investment perusahaan tersebut, Fadli Rahman, menyebut nilai investasi untuk satu proyek berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun, tergantung kapasitas fasilitas.
“Investasinya itu berkisar antara Rp 2,5 sampai Rp 2,8 triliun. Karena kapasitasnya cukup besar di beberapa lokasi, investasinya bisa mencapai Rp 2,8 triliun,” ujar Fadli.
Ia menjelaskan struktur kepemilikan proyek terdiri dari 70 persen mitra dan 30 persen Danantara, yang dijalankan melalui entitas baru Daya Energi Bersih Nusantara.
Dalam implementasinya, setiap proyek akan memiliki satu special purpose vehicle (SPV) atau badan usaha pelaksana. Sejumlah lokasi yang tengah disiapkan antara lain Denpasar atau Badung di Bali, serta Bogor dan Bekasi di Jawa Barat. Proyek di Yogyakarta juga masih dalam tahap pemilihan mitra.
Pendanaan proyek ini menggunakan skema blended finance dengan porsi utang sekitar 70 persen. Fadli menegaskan investasi tersebut masuk dalam kategori foreign direct investment (FDI) yang diharapkan dapat memperkuat iklim investasi nasional.
“Jatuhnya menjadi penanaman modal asing di Indonesia, yang baik untuk iklim investasi di Indonesia,” katanya.
