ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
Jakarta, sustainlifetoday.com — Faktor Environmental, Social, and Governance (ESG) kini semakin memengaruhi keputusan pembiayaan global, mulai dari pemeringkatan kredit, biaya modal perusahaan, hingga penentuan premi asuransi. Hal ini menunjukkan bahwa ESG telah berkembang dari sekadar isu reputasi menjadi risiko finansial yang nyata bagi korporasi.
Hal tersebut disampaikan Mardiasmo, Chairman Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) sekaligus Wakil Menteri Keuangan ke-9 Republik Indonesia, dalam forum ESG Risk Landscape 2026: What Corporations Must Prepare for in 2026? yang diselenggarakan oleh SustainLife Media Network pada Rabu (4/3/2026) di Swiss-Belhotel Pondok Indah, Jakarta.
Forum diskusi yang dirangkai dengan agenda buka puasa bersama tersebut dimoderatori oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina, Dewi Hanggraeni.
Dalam paparannya bertajuk “ESG Risks, Cost of Capital, and Insurance Implications,” Mardiasmo menjelaskan bahwa lembaga pemeringkat kredit global seperti Moody’s, S&P, dan Fitch telah secara formal mengintegrasikan faktor ESG dalam penilaian risiko kredit perusahaan.
Melalui kerangka penilaian seperti Issuer Profile Scores (IPS) dan Credit Impact Scores (CIS), lembaga pemeringkat dapat mengukur sejauh mana risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola memengaruhi probabilitas gagal bayar suatu perusahaan.
Menurut Mardiasmo, sektor-sektor seperti minyak dan gas, batu bara, pertambangan, dan utilitas termasuk yang memiliki paparan tinggi terhadap risiko lingkungan, terutama terkait transisi energi dan perubahan iklim.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan divergensi penilaian ESG antar penyedia data. Perbedaan metodologi penilaian sering kali menciptakan ketidakpastian bagi investor dalam menilai risiko suatu perusahaan.
“Ketika peringkat ESG dari berbagai lembaga menunjukkan perbedaan yang signifikan, investor cenderung memandang perusahaan tersebut memiliki risiko kredit yang lebih tinggi,” jelasnya.
Di pasar negara berkembang seperti Indonesia, menurutnya, keberadaan kerangka pelaporan ESG yang lebih terstandar menjadi sangat penting untuk mengurangi asimetri informasi dan meningkatkan kepercayaan investor.
Mardiasmo juga menekankan bahwa kinerja ESG yang kuat dapat secara langsung menurunkan biaya utang (cost of debt) perusahaan. Kreditur semakin mempertimbangkan metrik keberlanjutan dalam menentukan suku bunga pinjaman karena perusahaan dengan praktik ESG yang baik dinilai memiliki risiko regulasi dan operasional yang lebih rendah.
Dalam konteks Indonesia, ia menyebut bahwa faktor governance masih menjadi penentu utama dalam penilaian risiko kredit oleh kreditur domestik.
“Transparansi manajemen, perlindungan hak pemegang saham minoritas, dan integritas laporan keuangan tetap menjadi jangkar utama dalam menilai risiko kredit,” ujarnya.
Selain memengaruhi biaya utang, ESG juga berdampak pada biaya ekuitas (cost of equity). Perusahaan dengan profil ESG yang kuat cenderung memiliki volatilitas harga saham yang lebih rendah karena dinilai lebih mampu menghadapi krisis lingkungan maupun sosial.
Dalam perkembangan pasar keuangan global, Mardiasmo juga menyoroti fenomena “greenium”, yaitu kondisi ketika investor bersedia menerima imbal hasil lebih rendah pada obligasi hijau dibandingkan obligasi konvensional dengan risiko serupa. Di pasar Asia, obligasi hijau bersertifikat mencatatkan greenium rata-rata sekitar 12 basis poin.
Menurutnya, perkembangan ini sejalan dengan pertumbuhan pesat pasar pembiayaan berkelanjutan. Secara global, penerbitan instrumen utang berkelanjutan telah melampaui 1 triliun dolar AS pada 2024.
Di Indonesia sendiri, pemerintah dan sektor swasta telah aktif memanfaatkan sukuk hijau dan obligasi berkelanjutan untuk membiayai proyek-proyek seperti infrastruktur ramah lingkungan, transportasi massal, dan energi terbarukan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pasar juga menghadapi tantangan terkait integritas target keberlanjutan, terutama ketika perusahaan menetapkan target yang kurang ambisius atau hanya menggunakan indikator relatif dalam pengurangan emisi.
“Investor kini semakin selektif dan menuntut pengungkapan yang lebih mendalam mengenai strategi transisi perusahaan dan dampak finansial dari risiko iklim,” katanya.
Selain sektor keuangan, ESG juga mulai mengubah cara industri asuransi menilai risiko. Menurut Mardiasmo, perusahaan asuransi kini memasukkan faktor ESG dalam metodologi underwriting dan penetapan harga premi.
Perusahaan yang memiliki risiko ESG tinggi berpotensi menghadapi premi yang lebih mahal atau bahkan pembatasan akses perlindungan asuransi.
“Perubahan iklim dan dinamika sosial memaksa industri asuransi untuk merombak metodologi underwriting tradisional mereka,” jelasnya.
Ke depan, ia menilai korporasi juga harus mempersiapkan diri terhadap sejumlah kebijakan baru di Indonesia, termasuk adopsi standar pelaporan keberlanjutan IFRS S1 dan IFRS S2, implementasi Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), serta rencana penerapan pajak karbon secara penuh mulai 2026.
Kebijakan tersebut akan menuntut perusahaan untuk melaporkan emisi gas rumah kaca secara lebih komprehensif, termasuk hingga ke seluruh rantai pasok.
Sebagai rekomendasi, Mardiasmo menekankan pentingnya penguatan data governance ESG, integrasi risiko ESG dalam manajemen risiko perusahaan, serta optimalisasi penggunaan instrumen pembiayaan hijau seperti green bonds dan sustainability-linked loans.
“ESG tidak boleh lagi dipandang sebagai fungsi terpisah. Ia harus terintegrasi dalam keputusan alokasi modal dan manajemen risiko inti perusahaan,” ujarnya.
Forum ESG Risk Landscape 2026 menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dari sektor korporasi, regulator, akademisi, dan praktisi untuk membahas berbagai risiko ESG yang diperkirakan semakin memengaruhi ketahanan bisnis menuju 2026.
Sebagai platform media yang berfokus pada isu keberlanjutan, SustainLife Media Network secara konsisten menyuarakan pentingnya penerapan ESG melalui berbagai forum diskusi dan inisiatif kolaboratif. Selain ESG Risk Landscape, SustainLife juga menyelenggarakan sejumlah agenda lain seperti Indonesia Sustainable Business Forum (ISBF) serta ESG Initiative Awards (EIA) yang bertujuan mendorong praktik bisnis berkelanjutan di berbagai sektor.
BACA JUGA
