Siklon Tropis Menjauh dari Indonesia, BMKG Tetap Ingatkan Risiko Cuaca Ekstrem
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Dinamika cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai meski dua sistem siklon di sekitar Indonesia dilaporkan mulai menjauh. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, Siklon Tropis Bakung serta Bibit Siklon Tropis 93S memang bergerak menjauhi wilayah Indonesia, namun dampak tidak langsungnya masih dirasakan di sejumlah daerah.
BMKG menjelaskan, Siklon Tropis Bakung per Rabu (17/12) pukul 19.00 WIB berada di sekitar Samudra Hindia sebelah barat daya Lampung. Sistem cuaca tersebut diperkirakan melemah dalam 24 jam ke depan dengan kecepatan angin maksimum menurun ke kategori rendah dan bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 5 knot atau 9 kilometer per jam.
Meski tidak lagi memicu hujan lebat dan angin kencang di daratan, dampak tidak langsung Siklon Tropis Bakung masih berpotensi memengaruhi kondisi laut. BMKG memperingatkan potensi gelombang tinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, serta Selat Sunda bagian selatan.
Sementara itu, perhatian juga tertuju pada Bibit Siklon Tropis 93S yang mulai terbentuk sejak 11 Desember. Sistem ini saat ini berada di sekitar Samudra Hindia selatan Jawa Timur dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot atau sekitar 65 kilometer per jam, serta tekanan minimum 999 hPa.
Baca Juga:
- Hadapi Cuaca Ekstrem Nataru, Pemerintah Perkuat Antisipasi Bencana Alam
- Polri Usut Kasus Kayu Gelondongan Pemicu Banjir Sumut dengan Pasal Lingkungan dan TPPU
- Dorong Pemulihan Ekosistem Berkelanjutan, BRI Insurance Tanam 50 Ribu Pohon di Bogor
BMKG memperkirakan bibit siklon tersebut memiliki peluang sedang hingga tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan, dengan pergerakan ke arah selatan–barat daya. Dampaknya berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, meliputi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat bagian selatan, serta Nusa Tenggara Timur bagian barat.
Selain hujan, sistem ini juga berpotensi menyebabkan angin kencang di wilayah pesisir selatan Jawa Barat hingga Bali, serta gelombang laut tinggi di perairan Samudra Hindia selatan Banten hingga Pulau Sumba.
Di kawasan timur Indonesia, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 95S yang berada di sekitar Laut Arafura selatan Kepulauan Aru, Maluku, dan diperkirakan bergerak ke arah tenggara. Meski peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan tergolong rendah, sistem ini tetap berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Papua Selatan, serta hujan lebat hingga sangat lebat di Maluku bagian selatan hingga tenggara.
Tak hanya itu, Bibit Siklon Tropis 95S juga berpotensi menyebabkan angin kencang di Maluku bagian tenggara serta gelombang laut tinggi di Laut Banda, perairan Kepulauan Kai dan Kepulauan Aru, hingga Laut Arafura.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir dan laut, untuk tetap waspada terhadap dinamika cuaca ekstrem yang masih berlangsung. Kondisi ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi risiko iklim yang kian kompleks, terutama di tengah meningkatnya frekuensi dan intensitas gangguan cuaca ekstrem di kawasan Indonesia.
Baca Juga:
