Dukung Industri Baterai EV, BRIN Olah Grafit Alam Domestik Jadi Material Elektroda
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengakselerasi riset hilirisasi mineral strategis dengan merancang teknologi material elektroda berbasis cadangan grafit alam domestik. Inovasi ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian industri rantai pasok sistem penyimpanan energi nasional, mencakup superkapasitor hingga baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) generasi masa depan.
Tim peneliti di Pusat Penelitian Teknologi Mineral BRIN fokus merekayasa keterbatasan konduktivitas listrik pada bijih grafit mentah. Melalui pemrosesan kimiawi, grafit alami ditransformasi menjadi reduced graphene oxide (RGO) yang dikombinasikan bersama surfaktan polianilin (PANI) dan setiltrimetilamonium bromida (CTAB).
Peneliti pascadoktoral Pusat Penelitian Teknologi Mineral BRIN, Lukmanul Hakim Samada, menyampaikan capaian teknis tersebut dalam pameran webinar ilmiah pada Rabu (14/10/2026).
“Integrasi surfaktan CTAB 0,02 M dalam sintesis ini berhasil mengubah morfologi partikel yang menggumpal menjadi jaringan nanofiber PANI yang terdispersi dengan baik dan memiliki porositas mesopori yang tinggi,” jelas Lukmanul, seperti dikutip di situs web resmi BRIN.
Secara teknis, komposit terkayakan tersebut mencatatkan lonjakan performa signifikan dengan kapasitansi spesifik mencapai 918 F/g pada 1 A/g, meningkat 2,9 kali lipat dibandingkan formula komposit standar tanpa surfaktan. Dalam pengujian asymmetric supercapacitor (ASC), material ini mempertahankan tingkat daya tahan hingga 95 persen kapasitansi setelah 1.000 siklus operasional serta menghasilkan kerapatan energi sebesar 18,9 Wh/kg.
BACA JUGA
- Patra Logistik Beri Edukasi Keselamatan Jalan dan Kenalkan Mobil Tangki ke Murid SAAJA
- Imbas Asap Karhutla, Kualitas Udara Tiga Daerah Kalimantan Tembus Kategori Berbahaya
- Pulihkan Ekosistem, Jalur Pendakian Gunung Sibayak Ditutup Sementara Selama Sebulan
Langkah riset BRIN menjadi sangat strategis mengingat Indonesia menyimpan deposit grafit alam yang melimpah mencapai total 54,67 juta ton. Potensi tersebut terdistribusi di kawasan Kalimantan (31,24 juta ton) dan Sulawesi (23,43 juta ton), termasuk deposit signifikan di Kabupaten Kolaka.
Guna mengoptimalkan nilai tambah komoditas mineral ini, BRIN mendorong penerapan jalur pemrosesan terintegrasi di dalam negeri, meliputi tahapan kominusi, flotasi, hingga pemurnian kimiawi, sehingga Indonesia tidak sekadar menjadi eksportir bahan mentah (raw material).
“Tantangan utama dalam pengolahan grafit alami adalah memisahkan grafit dari mineral pengotor secara optimal sambil mempertahankan karakteristik serpihan yang menentukan nilai produk,” kata Lukmanul.
