Prabowo Janji Buka Kampus Kedokteran dan Teknik Gratis di Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya memperluas akses pendidikan tinggi sebagai strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah membuka universitas kedokteran dan teknik yang dapat diakses secara gratis oleh seluruh anak bangsa.
“Dalam waktu dekat kita akan buka kampus-kampus kedokteran, dan di kampus kedokteran ini dan rencana saya kampus-kampus kedokteran, teknik, dan sebagainya nanti dibuka untuk semua anak-anak Indonesia dan mereka tidak boleh bayar, dibayar oleh negara,” kata Prabowo saat peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Menurut Prabowo, pendidikan merupakan instrumen utama untuk mengentaskan kemiskinan dan membuka peluang mobilitas sosial. Ia menegaskan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang sosial dan ekonomi, berhak memiliki mimpi besar dan kesempatan yang setara untuk mewujudkannya.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyoroti masih terbatasnya jumlah tenaga kesehatan di Tanah Air, khususnya dokter dan dokter gigi, di tengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Baca Juga:
- Sudin LH Jaktim Kerahkan Armada Tambahan Tangani Timbulan Sampah Pasar Induk Kramat Jati
- PSEL Dinilai Solusi Tekan Timbunan Sampah dan Dorong Transisi Energi
- Pemerintah Tetapkan Perairan Wetar Barat Sebagai Kawasan Konservasi Laut
“Tapi pendidikan butuh uang, uang kita kalau dicuri, dikorupsi kurang untuk bangun semua sekolah yang ingin kita bangun, semua kampus yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Selain rencana pembangunan universitas, Prabowo menyebut program Sekolah Rakyat sebagai salah satu pilar kebijakan sosial pemerintah dalam memutus kemiskinan antargenerasi. Pada hari yang sama, Kementerian Sosial resmi meluncurkan Sekolah Rakyat yang dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk dalam Desil 1 dan 2 DTSEN. Program ini dirancang sebagai intervensi pendidikan menyeluruh untuk memperluas akses pembelajaran berkualitas bagi kelompok paling rentan.
Pada 2025, sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat Rintisan telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia, meliputi Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Program ini saat ini menampung 14.846 siswa dengan dukungan 2.218 guru serta 4.889 tenaga kependidikan.
