Petakan Wilayah Jawa hingga Papua, Kementerian ESDM Siapkan Pasokan Bahan Baku Bioetanol
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai melakukan pemetaan komprehensif terhadap wilayah-wilayah potensi penghasil bahan baku pertanian guna menopang implementasi kebijakan pencampuran bioetanol nasional menuju target E50 (campuran etanol 50 persen).
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa skema diversifikasi energi berbasis bioetanol ini akan mengandalkan tiga komoditas utama, yakni tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah telah mengidentifikasi kantong-kantong wilayah pasokan di berbagai pulau besar.
“Sudah [pemetaan daerah bahan bioetanol]. Ada sebagian di Jawa, di Sumatra, ada juga sebagian di Papua,” kata Bahlil saat ditemui pada acara Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Bahlil menegaskan, pendorongan bioetanol dirancang tidak hanya untuk menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) fosil, tetapi juga menciptakan ekosistem rantai pasok baru yang memberikan kepastian harga dan pasar bagi para petani lokal.
BACA JUGA
- Presiden Prabowo Resmikan Ekspor Perdana Baterai Listrik dan Groundbreaking Hilirisasi Nikel Weda Bay
- Tabebuya Bermekaran Hiasi Sudut Jakarta, Ruang Terbuka Hijau Tawarkan Nuansa Musim Semi
- Perkuat Pengelolaan Sumber Daya Air, Coca-Cola Indonesia Resmikan Perluasan Embung Doho
Ia mencontohkan, hasil panen petani singkong yang selama ini kerap dihadapkan pada fluktuasi pasaran akan memiliki penyerapan industri (offtaker) yang pasti sebagai bahan baku energi terbarukan.
Kendati demikian, Bahlil menggarisbawahi bahwa penetapan tahapan mandatory campuran bioetanol akan disesuaikan dengan kesiapan kapasitas pengolahan industri serta ketersediaan komoditas dari dalam negeri.
“Jangan sampai kita melakukan mandatory, tetapi etanolnya lagi kita impor. Tidak boleh,” tegasnya.
Bahlil meyakini bahwa akselerasi bioetanol hingga E50 dapat mengadopsi kesuksesan rekam jejak pengembangan biodiesel nasional yang berhasil dinaikkan secara bertahap dari B10 hingga B50. Di tengah lonjakan dan gejolak harga minyak mentah dunia, pengembangan bioetanol dinilai makin krusial sebagai energi alternatif yang ekonomis.
“Waktu saya membicarakan [bioetanol] pertama kali, orang tidak percaya apa bisa etanol. Di Brasil itu ada E100, di Amerika [AS] juga sudah ada mereka. Dengan harga minyak dunia yang tinggi seperti sekarang, etanol itu energi alternatif yang harganya jauh lebih bisa dijangkau,” ujar Bahlil.
