Penanganan Pascabanjir Sumatra, BNPB Siapkan Pengerukan Sungai hingga Modifikasi Cuaca
Jakarta, sustainlifetoday.com — Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menimbulkan kerusakan di daratan, tetapi juga berdampak serius pada kondisi daerah aliran sungai (DAS). Aliran sungai di wilayah terdampak mengalami pendangkalan akibat sedimentasi lumpur yang terbawa arus banjir dan longsor.
Pendangkalan ini menyebabkan kapasitas tampung sungai menurun drastis, sehingga meningkatkan risiko banjir susulan, bahkan saat hujan dengan intensitas sedang. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama sejumlah pemangku kepentingan akan melakukan pengerukan sungai sebagai langkah mitigasi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pengerukan akan dimulai dari muara sungai.
“Dan kemarin juga sudah disampaikan inisiatif dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Pekerjaan Umum akan dilakukan pengerukan mulai dari muaranya,” kata Abdul di Graha BNPB, Jakarta, dikutip pada Senin (5/1).
Menurut Abdul, proses pengerukan tidak hanya dilakukan di badan sungai yang berada di darat, tetapi juga melibatkan kapal khusus pengerukan untuk mempercepat proses pendalaman saluran air.
“Jadi tidak hanya di badan sungai yang ada di darat, tetapi juga nanti mulai dari muara naik ke atas dengan menggunakan kapal dredging yang lebih besar, sehingga proses pendalaman saluran ini bisa lebih cepat,” paparnya.
Baca Juga:
- Dibayangi Krisis Iklim, Panas Ekstrem Jadi Tantangan Nyata di Piala Dunia 2026
- Ini Resolusi Ramah Lingkungan 2026 Sederhana yang Bisa Dilakukan Sehari-hari
- Danantara Targetkan Dana CSR BUMN Rp1 Triliun untuk Hunian Korban Bencana Sumatra
Selain pengerukan, BNPB juga terus melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah wilayah terdampak bencana. Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir susulan, mengingat kondisi sungai masih belum pulih sepenuhnya.
“Saat ini kondisi atau kapasitas daya tampung saluran-saluran air utama, sungai, dan lainnya masih sangat terbatas karena tingginya sedimentasi dan faktor lainnya. Sehingga hujan dengan intensitas sedang pun, jika berlangsung lebih dari dua jam, dapat menyebabkan luapan air,” jelasnya.
Abdul menegaskan percepatan normalisasi saluran air di darat terus dilakukan, terutama pada titik-titik rawan yang selama ini kerap memicu banjir saat hujan turun.
“Tentu saja kami terus melakukan percepatan normalisasi saluran di darat, khususnya pada titik-titik yang kami identifikasi di jalur-jalur sungai yang selama ini selalu menimbulkan luapan air saat hujan,” tutupnya.
