Lebaran 2026 Bisa Picu 72 Ribu Ton Sampah, Mudik Massal Jadi Ancaman Lingkungan?
Jakarta, sustainlifetoday.com — Euforia Lebaran 2026 tak hanya membawa kebahagiaan dan tradisi mudik, tetapi juga ancaman serius bagi lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkirakan total timbulan sampah selama periode mudik bisa mencapai 71.960 ton atau hampir 72 ribu ton.
Lonjakan ini sejalan dengan pergerakan masyarakat yang diperkirakan mencapai sekitar 143 juta orang, menjadikan mudik sebagai salah satu mobilitas terbesar dalam setahun dan sekaligus penyumbang sampah terbesar dalam waktu singkat.
Sampah diprediksi menumpuk di berbagai titik krusial, mulai dari terminal, stasiun, pelabuhan, hingga rest area. Jenis sampah yang paling dominan adalah kemasan sekali pakai dan sisa makanan, yang meningkat drastis selama perjalanan mudik.
Lonjakan tersebut juga mendapat sorotan langsung dari pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiqmenegaskan bahwa besarnya mobilitas masyarakat akan berdampak langsung pada volume sampah nasional.
“Ada sekitar 143 juta pergeseran masyarakat dari kota-kota besar ke daerah-daerah. Artinya maka sampah yang timbul dalam satu harinya bisa dikalikan 0,5 kilogram,” ujarnya dikutip sustainlifetoday.com pada Minggu, 23 Maret 2026.
Sementara itu, KLH juga secara resmi memproyeksikan lonjakan timbulan sampah selama periode mudik Lebaran dalam skala nasional.
Di tingkat daerah, dampaknya mulai terasa nyata. Di Jawa Tengah misalnya, lonjakan pemudik diperkirakan akan mendorong kenaikan signifikan produksi sampah harian selama libur Lebaran.
Sementara itu, di kawasan wisata seperti Yogyakarta, ledakan kunjungan wisatawan juga memicu kekhawatiran serius terhadap daya tampung lingkungan. Sampah menjadi salah satu isu paling disorot di tengah tekanan terhadap ekosistem lokal.
BACA JUGA
- Dua Korporasi di Tangerang Segera Disidang Atas Tindak Pidana Lingkungan
- Cotton vs Polyester, Mana Pilihan Bahan Baju Lebaran yang Lebih Ramah Lingkungan?
- Polusi Udara Tak Hanya Bahayakan Manusia, Penelitian Ungkap Dampaknya pada Serangga
Ironisnya, di tengah lonjakan sampah tersebut, kapasitas pengelolaan justru mengalami keterbatasan. Di Jawa Barat, operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bahkan sempat dihentikan sementara saat hari H Lebaran, sehingga masyarakat diminta mengelola sampah secara mandiri.
Fenomena ini pun memperlihatkan paradoks tahunan, di mana kegiatan mudik bisa menjadi simbol kebersamaan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bisa menciptakan tekanan besar terhadap sistem pengelolaan sampah nasional.
