Antisipasi Dugaan Wabah di Rusia, Pakar UGM Dorong Penguatan Surveilans Vektor Penyakit Pes
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mulai meningkatkan kewaspadaan di sejumlah pintu masuk negara merespons indikasi dugaan kemunculan wabah pes (plague) di Irkutsk, Siberia, Rusia. Langkah antisipatif ini memicu sorotan terhadap pentingnya pengawasan tata lingkungan dan sistem surveilans zoonosis nasional.
Dugaan kemunculan wabah ini mencuat usai laporan kematian seorang pekerja laboratorium yang disinyalir terpapar bakteri Yersinia pestis (Y. pestis). Kendati demikian, otoritas Rusia masih mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai kasus pneumonia dengan etiologi yang belum dipastikan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tri Wibawa, mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap tenang serta menyikapi informasi secara proporsional.
“Hingga saat ini belum jelas apa yang terjadi di Rusia, apakah merupakan penyakit pes ataukah bentuk penyakit yang lainnya. Sehingga tidak dapat berspekulasi untuk penyebaran dan mekanisme penularannya di Indonesia,” ujar Tri, dilansir dari laman resmi UGM.
Meski demikian, Tri menekankan perlunya kewaspadaan mitigasi mengingat bakteri Y. pestis secara alamiah masih dapat bertahan pada hewan pengerat liar yang bertindak sebagai perantara penyebaran.
“Dengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia,” tutur Tri.
BACA JUGA
- Perluas Inklusi Keuangan, BRILink Agen Catat Transaksi Rp1.270 Triliun Hingga September 2026
- Dukung Pariwisata Berkelanjutan, BRI Peduli Kelola Sampah MotoGP Mandalika 2026
- Pupuk Kaltim Pangkas 10,7 Ribu Ton Emisi Karbon Lewat PLTS Atap
Secara epidemiologis, penyakit pes ditularkan melalui gigitan pinjal yang terinfeksi pada tubuh tikus. Penularan juga berpotensi terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh satwa terinfeksi maupun melalui transmisi percikan pernapasan (droplet), terutama pada kasus pneumonic plague yang menyerang jaringan paru-paru secara akut.
Oleh sebab itu, Tri menggarisbawahi urgensi penguatan sistem surveilans yang berkesinambungan terhadap keberadaan bakteri Y. pestis pada vektor. Pengendalian populasi tikus wajib menjadi perhatian otoritas lingkungan dan kesehatan daerah, terutama karena habitat hewan pengerat tersebut kerap bersinggungan langsung dengan permukiman padat penduduk.
Selain aspek pengawasan lingkungan, kesiapan sistem layanan kesehatan dan kapasitas tenaga medis dalam mendiagnosis penyakit ini perlu dipastikan kembali. Absennya laporan kasus pes pada manusia di Indonesia selama beberapa dekade terakhir membuat kemampuan pengenalan gejala klinis dan penanganan tata laksana menjadi krusial.
“Terapi antibiotik yang cepat dan tepat menjadi kunci dari penanganan penyakit ini,” ucapnya.

Singapura Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla ke Indonesia dan Selidiki Perusahaan Pemicu Asap – SustainLife Today
16 Oktober 2026 @ 10:44 am
[…] Antisipasi Dugaan Wabah di Rusia, Pakar UGM Dorong Penguatan Surveilans Vektor Penyakit Pes […]