Target Meleset, PBB Desak Pemangkasan Emisi Cepat Jelang COP31 Turki
Jakarta, sustainlifetoday.com – Komunitas internasional diproyeksikan tidak lagi mampu menahan laju pemanasan global di bawah ambang batas kritis 1,5°C di atas tingkat praindustri. Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) di Antalya, Turki, Program Lingkungan PBB (UNEP) mendesak fokus diplomasi iklim global kini dialihkan untuk meminimalkan tingkat pelampauan (overshoot) suhu bumi serendah mungkin guna menekan risiko krisis ekologis ekstrem.
Dalam laporan tahunan kesenjangan emisi (Emissions Gap Report) yang dirilis Rabu (21/10/2026), UNEP menegaskan bahwa seluruh negara wajib memangkas emisi karbondioksida hingga hampir seperlima pada akhir dekade ini dibandingkan tingkat emisi 2025. Skenario overshoot terendah yang dibidik UNEP yakni membatasi kenaikan suhu pada kisaran 1,7°C–1,8°C di atas tingkat praindustri, sebelum diturunkan kembali ke target 1,5°C pada akhir abad ini melalui pemangkasan emisi yang mendalam dan berkesinambungan.
Tantangan dekarbonisasi kawasan kian berat menyusul mundurnya Amerika Serikat (AS) dari komitmen Perjanjian Paris. Kendati pertumbuhan emisi kolektif negara G20 melambat, lonjakan emisi AS justru mencatatkan rekor tertinggi sebesar 133 megaton, disusul Turki sebesar 24,4 megaton. Target penurunan emisi satu gigaton dari proyeksi pemerintahan AS terdahulu pun resmi dikeluarkan dari perhitungan UNEP.
BACA JUGA
- Penelitian Sebut ‘Ekonomi Api’ dan Ketimpangan Data Perburuk Karhutla 2026
- Pidato Bahasa Jawa, Anggota Parlemen Malaysia Sentil Prabowo Soal Kabut Asap Karhutla
- Lewat Program Pertamina Hijau, 37 Relawan Patra Logistik Bersihkan Taman Tangkuban Perahu
Laporan UNEP turut memproyeksikan suhu bumi akan melonjak hingga 2,6°C pada tahun 2100 jika kebijakan iklim saat ini berlanjut tanpa intervensi progresif. Saat ini, kurang dari separuh negara anggota G20 berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penurunan emisi 2030.
Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, menekankan bahwa kondisi krisis ini harus direspons dengan penguatan komitmen ketimbang sikap putus asa di tingkat global.
“Ini bukan saatnya untuk menyerah,” ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.
“Sebaliknya, ini adalah tentang bagaimana kita menemukan jalan untuk kembali ke jalur yang benar,” lanjutnya.
Penyelenggaraan COP31 di Turki bulan depan juga dihadapkan pada eskalasi dinamika geopolitik, mulai dari konflik bersenjata di Iran, pergeseran agenda politik akibat pemilu di Prancis dan Brasil, hingga penangguhan sidang Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) di Addis Ababa yang memicu risiko ketiadaan laporan sains utama saat negosiasi berlangsung.
Menanggapi ketimpangan aksi iklim internasional tersebut, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menggarisbawahi pentingnya kemauan politik para pimpinan dunia untuk mengendalikan durasi overshoot.
“Kesenjangan emisi saat ini merupakan kesenjangan kepemimpinan,” ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
“Melampaui batas target (overshoot) bukan berarti menyerah. Kita masih bisa meminimalkan tingkat dan durasi pelampauan tersebut, serta berupaya menurunkan kembali suhu bumi hingga di bawah 1,5°C sebelum abad ini berakhir,” lanjutnya.
BACA JUGA
