INAGA Targetkan Indonesia Jadi Pemimpin Geothermal Dunia pada 2030
Jakarta, sustainlifetoday.com – Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA) Julfi Hadi mendorong percepatan pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber daya lokal untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Indonesia dinilai memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia yang sanggup menjadi sumber energi baseload yang andal, terbarukan, dan bersih.
“Energi panas bumi mempunyai karakteristik yang spesial dan satu-satunya baseload renewable yang ada pada saat ini, juga terbarukan, bersih, dan terbentang luas dari Sabang sampai Merauke,” ujar Julfi dalam acara pembukaan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (19/8).
Julfi menekankan bahwa akselerasi geothermal kian mendesak di tengah dinamika geopolitik global guna menopang transisi energi sekaligus menggejot pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan manufaktur lokal.
“Transisi energi yang sudah sangat kritikal karena Indonesia adalah negara kepulauan dan boost PDB hingga delapan persen dengan mendorong manufaktur, peralatan geothermal di Indonesia, bukan lagi di luar negeri,” sambung Julfi.
BACA JUGA
- Aktivitas Seismik di NTT Masih Tinggi, BMKG Imbau Warga Waspadai Gempa Susulan
- Tinjau Lokasi Gempa NTT, Mendagri Minta Pemkab Klasifikasikan Kerusakan Sekolah dan Fasilitas Umum
- Peringati HUT RI ke-81, Taman Margasatwa Ragunan Gelar Atraksi Satwa
Ia mendesak agar Indonesia segera memangkas ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) fosil dan beralih ke ekonomi hijau dengan memanfaatkan cadangan geothermal yang melimpah.
“Latar belakang inilah yang mewajibkan kita untuk segera mengakselerasi pemanfaatan 88 persen cadangan panas bumi yang belum terutilisasi,” ungkap Julfi.
Percepatan ini menjadi amunisi utama dalam mewujudkan visi target 30.1 Kementerian ESDM, yaitu menjadikan kapasitas terpasang geothermal Indonesia sebagai yang terbesar di dunia pada 2030.
“Langkah agresif ini mutlak diperlukan untuk merealisasikan visi besar Kementerian ESDM, yaitu target 30.1 atau menjadikan geothermal Indonesia sebagai nomor satu di dunia pada 2030,” ucap Julfi.
Penyelenggaraan IIGCE 2026 bertepatan dengan momen bersejarah satu abad (100 tahun) dimulainya eksplorasi panas bumi di Indonesia, yang diharapkan menjadi titik balik revolusioner bagi industri energi bersih nasional.
“Momentum 100 tahun ini harus kita jadikan sebagai titik balik yang revolusioner. Kita harus mengubah warisan satu abad ini menjadi landasan pacu untuk lepas landas secara masif demi merealisasikan 30.1,” lanjut Julfi.
Di samping itu, Julfi menggarisbawahi pentingnya dukungan regulasi, keekonomian proyek, dan kepastian tarif dari pemerintah untuk menarik investasi lintas sektor.
“Kami membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk memastikan 30.1 tercapai, yaitu keekonomian proyek dan tarif yang saat ini sedang dibahas,” sambung Julfi.
Selain sebagai pembangkit listrik (power), INAGA juga mendorong komersialisasi potensi panas bumi ke sektor pendukung lain guna menciptakan sumber pendapatan baru (new revenue streams).
“Utilisasi baseload geothermal tentunya bukan saja untuk power. Kita telah memulai mendorong penciptaan new revenue streams melalui proyek utilisasi data center, green hydrogen, dan ammonia, serta aplikasi direct use di sektor agriculture,” kata Julfi.
