Transformasi Industri Hijau, SIG Integrasikan ESG dan Dekarbonisasi ke dalam Strategi Bisnis
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG/SMGR) terus mengakselerasi agenda dekarbonisasi sebagai langkah strategis menanggapi tuntutan industri bahan bangunan dalam mereduksi jejak emisi karbon. Perseroan menegaskan bahwa penguatan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) telah bertransformasi menjadi core strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar pemenuhan regulasi.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyampaikan bahwa komitmen keberlanjutan yang kuat memberikan nilai tambah tersendiri bagi daya saing perseroan di pasar global maupun domestik.
“Penerapan prinsip ESG merupakan landasan bagi SIG dalam menjalankan operasional bisnis. Komitmen ini didasari oleh kesadaran bahwa ESG bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi merupakan keuntungan kompetitif perusahaan pada masa mendatang,” ujarnya melalui keterangan resmi yang dikutip Selasa (18/8).
Komitmen ekologis tersebut terbukti lewat capaian reduksi intensitas emisi gas rumah kaca (GRK). SIG berhasil mencatatkan penurunan intensitas emisi Scope 1 sebesar 21 persen dibandingkan baseline tahun 2010. Sementara itu, untuk intensitas emisi Scope 2, perseroan sukses memangkas emisi hingga 15 persen dari baseline 2019.
Akselerasi penurunan emisi ini disokong oleh serangkaian strategi komprehensif, mulai dari optimalisasi bahan bakar alternatif, perluasan energi terbarukan, pemanfaatan kembali panas buang (waste heat), hingga inovasi semen rendah karbon (green cement). Sepanjang tahun 2025, konsumsi bahan bakar alternatif SIG melonjak 24 persen mencapai 681.000 ton. Volume ini setara dengan penghematan penggunaan batu bara hingga 467.000 ton sekaligus mendorong Thermal Substitution Rate (TSR) menyentuh angka 9,77 persen.
BACA JUGA
- Mengenal Cakra NX1, Motor Listrik Nasional yang Diresmikan Presiden Prabowo
- Penelitian Ungkap Garam Laut yang Diperjualbelikan di Lombok Tercemar Mikroplastik
- BRIN Kembangkan Rumput Gajah Unggul untuk Hadapi Krisis Iklim dan Keterbatasan Lahan
Bahan bakar alternatif yang dimanfaatkan berasal dari limbah industri, limbah biomassa, hingga olahan sampah perkotaan berupa Refuse-Derived Fuel (RDF).
Dari sisi portofolio produk, SIG mengembangkan lini semen hijau yang memiliki jejak emisi karbon hingga 38 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional (Ordinary Portland Cement), tanpa mengorbankan mutu dan standar performa material bangunan. Langkah ini krusial mengingat proses manufaktur semen tergolong industri padat energi.
Guna memperkuat bauran energi bersih, SIG juga memasang instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah fasilitas operasional serta menerapkan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG) untuk mengonversi gas buang pabrik menjadi energi listrik.
Guna menjaga konsistensi jangka panjang, seluruh target dekarbonisasi dijangkau melalui Sustainability Roadmap 2030 yang diawasi langsung oleh Komite Keberlanjutan perseroan.
“Seluruh pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi SIG untuk terus mengakselerasi target-target keberlanjutan yang telah ditetapkan dalam Sustainability Roadmap 2030,” ujar Vita.
Melalu perencanaan strategis ini, SIG optimistis mampu memimpin transisi industri bahan bangunan menuju era ekonomi hijau dan netralitas karbon.
