Percepat Bauran Energi Bersih, DAMRI Incar Dana ADB untuk Beli 90 Bus Listrik
Jakarta, sustainlifetoday.com – Perum DAMRI tengah memproses pengajuan pinjaman ke Asian Development Bank (ADB) senilai 37,5 juta Dolar AS atau sekitar Rp672 miliar guna memenuhi kuota pasokan kontrak bus listrik untuk operasional Transjakarta. Melalui fasilitas pembiayaan hijau tersebut, DAMRI berencana membeli sekitar 90 unit bus listrik baru sekaligus membangun dua titik stasiun pengisian daya (charging station).
Koordinator Transportasi Darat dan Perkeretaapian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Handhi Setiawan Adiputra, mengungkapkan bahwa Bappenas telah memberikan rekomendasi resmi atas proposal yang diajukan pihak DAMRI.
“Itu memang kemarin mengusulkan kepada kami, kami memberikan rekomendasi, Kementerian Keuangan (juga), untuk dikeluarkan sebagai jaminan kan, dari pemerintah,” kata Handhi dilansir KataData, Kamis (6/8).
Menurut Handhi, skema pinjaman yang diperoleh DAMRI terbilang sangat menguntungkan secara perhitungan bisnis. Hal ini tidak terlepas dari dukungan program energi bersih (clean energy) yang gencar dijalankan oleh lembaga keuangan multilateral tersebut.
“Dengan bunga satu sampai dua persen, menurut saya, secara bisnis itu menguntungkan,” ujar dia.
Langkah pengajuan pembiayaan ini dikonfirmasi oleh Vice President Sales and Marketing Perum DAMRI, Teguh Aditya Dharma. Ia membenarkan bahwa masih ada sekitar 90-an unit armada kendaraan listrik yang wajib dipenuhi oleh perusahaan untuk menuntaskan komitmen kontrak dengan manajemen Transjakarta.
BACA JUGA
- IFCH Resmi Diluncurkan, Pakar UGM Ingatkan Perdagangan Karbon Bukan Alat Greenwashing
- BPK Tegaskan Pentingnya Tata Kelola ESG dan Government 5.0 untuk Wujudkan Indonesia Emas
- Pembangunan PLTS 100 GW Dimulai dari Bali, Kementerian ESDM Jamin Kesiapan Regulasi
“Sedang kami upayakan, mudah-mudahan akhir tahun atau awal tahun kami bisa,” ujar Teguh.
Teguh menjelaskan bahwa secara keseluruhan DAMRI ditargetkan untuk menyediakan sekitar 500 unit bus listrik bagi layanan Transjakarta. Namun, sejak masa permulaan operasional pada tahun 2023 hingga saat ini, armada yang berhasil direalisasikan dan beroperasi di jalanan baru menyentuh angka 316 unit.
Di samping pemenuhan kuota armada, Teguh turut menyoroti berbagai tantangan pada ekosistem kendaraan listrik nasional yang dinilai masih membutuhkan perhatian khusus. Dari total 316 unit bus listrik yang saat ini melayani rute Transjakarta, sebanyak 236 unit di antaranya masih didatangkan dalam bentuk impor utuh (completely built-up).
“Baru 80 unit yang bisa kami bangun di Indonesia. Jadi kami impor CKD, sisanya kami melakukan perakitan dan pembangunan bodi di Indonesia,” kata dia.
Guna mendukung kelancaran pasokan daya armada berbasis baterai tersebut, DAMRI sejauh ini telah memfasilitasi empat lokasi stasiun pengisian daya yang masing-masing dilengkapi dengan sekitar 20 mesin pengisi. Menurut perkiraan Teguh, satu unit mesin dirancang ideal untuk melayani pengisian daya maksimal empat bus dalam sehari demi menjaga efisiensi waktu operasional.
“Kalau lebih dari empat unit, kami enggak keburu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Teguh mengakui bahwa laju perkembangan teknologi armada kendaraan listrik saat ini bergerak sangat masif. Kendati demikian, tingkat kemampuan teknisi atau mekanik di lapangan diakuinya belum merata, sehingga DAMRI terus mengintensifkan program pelatihan agar siap mendukung percepatan elektrifikasi transportasi massal di berbagai daerah.
“Sehingga pada saat di beberapa kota lain membutuhkan, kami juga siap,” ucap Teguh.
