Penurunan Populasi Ikan Kakatua Ancam Keberlanjutan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penurunan populasi ikan kakatua di kawasan perairan Indonesia dikhawatirkan akan memicu kerusakan masif pada ekosistem pesisir. Praktik penangkapan berlebihan serta degradasi habitat membuat spesies laut yang berperan vital dalam menjaga kesehatan terumbu karang ini semakin terancam keberadaannya.
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Adriani Sunuddin, memaparkan bahwa menyusutnya populasi ikan kakatua berpotensi memicu dominasi alga di atas ekosistem terumbu karang. Kondisi krisis tersebut tidak hanya menghambat pertumbuhan karang baru, tetapi juga melipatgandakan kerentanan terumbu karang terhadap berbagai penyakit dan fenomena pemutihan karang (coral bleaching).
“Konservasi ikan kakatua bukan hanya menjaga satu jenis ikan, tetapi juga mempertahankan kemampuan terumbu karang untuk pulih, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” ujar Adriani, dikutip dari laman resmi IPB University, Senin (3/8).
Selain mengganggu keseimbangan ekosistem dasar laut, hilangnya populasi ikan kakatua juga berisiko menghentikan pembentukan pasir alami di wilayah pesisir.
Adriani menjelaskan, seekor ikan kakatua dewasa mampu memproduksi sekitar 90 hingga 450 kilogram pasir setiap tahun. Bahkan, spesies ikan kakatua kepala benjol (Bolbometopon muricatum) dapat menghasilkan lebih dari lima ton pasir per tahun. Pasir organik inilah yang menjadi material utama pembentuk hamparan pantai berpasir putih dan pulau-pulau kecil di perairan dangkal.
BACA JUGA
- Dukung Transisi Waste to Energy, PLN Sepakati Pembelian Daya PSEL Legok Nangka
- Pemerintah Diminta Percepat Transisi Energi Terbarukan di Tengah Ancaman El Nino
- Pramono Anung: POO Ciangir Bukan Pengganti Bantargebang
Meski ikan kakatua kerap terlihat menggigit dan merusak permukaan karang, Adriani menegaskan bahwa perilaku tersebut justru merupakan mekanisme penting bagi kelestarian lingkungan. Sasaran utama ikan ini bukanlah struktur karang itu sendiri, melainkan memakan alga dan mikroorganisme yang menempel di permukaannya. Saat mencari makan, ikan kakatua mengikis sebagian matriks kapur karang, lalu mengeluarkan sisa material tersebut dalam bentuk butiran pasir halus usai proses pencernaan.
“Ikan kakatua berperan sebagai insinyur ekosistem terumbu karang. Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkannya,” kata Adriani.
Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan kakatua terbagi menjadi dua kelompok ekologis, yakni scrapers (pengikis) dan excavators (pengeruk). Kelompok pengikis bertugas membersihkan alga agar larva karang memiliki ruang kosong untuk menempel dan membentuk koloni baru. Di sisi lain, kelompok pengeruk membantu menyebarkan fragmen karang dan alga endosimbion hidup yang sangat krusial dalam mendukung regenerasi alami terumbu karang.
Mengutip data dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih, ikan kakatua menghabiskan sekitar 90 persen waktunya untuk mencari makan dengan membersihkan hamparan alga. Kehadirannya memastikan karang tetap tangguh menghadapi perubahan suhu laut, polusi pencemaran, dan kekeruhan air. Sebaliknya, apabila populasi alga meledak akibat hilangnya ikan kakatua, terumbu karang akan mati dan rantai ekosistem laut akan hancur.
Sebagai solusi pelestarian spesies yang hidup di perairan dangkal tropis, pantai berbatu, hingga padang lamun ini, Adriani mendorong penguatan hukum adat di wilayah pesisir serta perluasan edukasi kepada masyarakat untuk menghentikan eksploitasi. Tata kelola berbasis masyarakat yang dilengkapi dengan regulasi pembatasan penangkapan dinilai sebagai langkah paling presisi untuk melindungi ikan kakatua sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati laut.
