Ilmuwan China Kembangkan Tanaman Bercahaya, Alternatif Pencahayaan Ramah Lingkungan
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Ilmuwan di China memperkenalkan inovasi baru berupa tanaman hasil rekayasa genetika yang mampu bercahaya dalam gelap. Teknologi ini dinilai berpotensi menjadi solusi pencahayaan kota yang lebih rendah emisi sekaligus mendukung pengembangan pariwisata malam hari.
Tanaman tersebut dikembangkan menggunakan teknologi penyuntingan gen (gen editing), dengan mentransfer gen penghasil cahaya dari kunang-kunang dan jamur bercahaya ke dalam sel tanaman. Hasilnya, tanaman mampu memancarkan cahaya alami tanpa membutuhkan listrik.
Sejauh ini, lebih dari 20 spesies tanaman telah berhasil direkayasa agar dapat bersinar di malam hari, di antaranya bunga matahari, anggrek, dan krisan. Teknologi ini dipamerkan dalam Zhongguancun Forum 2026 yang digelar pada akhir Maret lalu.
Forum tersebut berlangsung di kawasan Zhongguancun, yang dikenal sebagai pusat inovasi teknologi di Beijing dan kerap dijuluki sebagai “Silicon Valley”-nya China.
Pengembangan teknologi ini juga berangkat dari pengalaman personal salah satu penelitinya, Li Renhan, pendiri perusahaan bioteknologi Magicpen Bio.
“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya banyak uang. Jadi pada malam hari, saya hanya bisa berbaring di hammock di kebun bambu milik kakek untuk mendinginkan diri. Kunang-kunang sering hinggap di lengan saya,” ujarnya, seperti dikutip dari Euronews, Rabu (15/4).
Berangkat dari pengalaman tersebut, Li mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi penyuntingan gen untuk mentransfer kemampuan menghasilkan cahaya dari hewan ke tanaman. Tujuannya adalah menciptakan sumber cahaya alami yang dapat dimanfaatkan secara luas.
BACA JUGA
- Piala Dunia 2026 Diprediksi Hasilkan Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar dalam Sejarah Olahraga
- Jaga Ekosistem Tetap Lestari, Pemerintah akan Batasi Kunjungan ke Taman Nasional Komodo
- Danantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk Proyek Sampah Jadi Listrik
Ia menilai teknologi ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga potensi ekonomi, khususnya untuk mendukung sektor wisata budaya dan aktivitas ekonomi malam hari.
“Bayangkan lembah yang penuh dengan tanaman yang bercahaya dalam gelap, itu akan seperti membawa dunia dalam dilm “Avatar” ke dunia nyata,” ujarnya.
Selain itu, Li optimistis inovasi ini dapat menjadi alternatif pencahayaan yang lebih ramah lingkungan di masa depan karena tidak bergantung pada energi listrik.
“Mereka hanya memerlukan air dan pupuk. Teknologi ini dapat menghemat energi, mengurangi emisi, dan membantu menerangi kota di malam hari,” ucapnya.
