Pemprov DKI Kebut Implementasi Kawasan Rendah Emisi
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menekan pencemaran udara melalui penerapan Kawasan Rendah Emisi (KRE) yang dinilai mampu menurunkan konsentrasi polutan secara signifikan.
Berdasarkan kajian Feasibility Assessment of Low Emission Zone (LEZ) oleh Breathe Jakarta tahun 2025, implementasi KRE secara luas dan terintegrasi berpotensi menurunkan konsentrasi PM2.5 hingga 30 persen.
“Kawasan rendah emisi merupakan salah satu langkah strategis yang kami dorong. Pengendalian polusi udara tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas wilayah, serta dukungan aktif masyarakat,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto dikutip Selasa (14/4).
Asep juga optimistis, melalui kebijakan berbasis data, implementasi bertahap secara inklusif dan berkeadilan, serta kolaborasi yang kuat, upaya ini mampu menghadirkan perbaikan kualitas udara yang nyata.
“Ini adalah bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan kualitas udara yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi warga Jakarta,” katanya.
BACA JUGA
- Perang Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Emisi Hingga Jutaan Ton!
- CESGS Resmi Luncurkan ESG Outlook: Leaders in ESG Management in Saudi Arabia 2022-2024
- Dorong Transisi Energi, Prabowo Targetkan Produksi Avtur dari Sawit dan Minyak Jelantah
Pembahasan kebijakan kawasan rendah emisi ini turut melibatkan peneliti dari Universitas Indonesia serta mitra internasional dari C40 Cities melalui program Breathe Cities. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari penyusunan Rancangan Peraturan Gubernur yang berbasis data dan praktik terbaik global.
City Advisor Breathe Jakarta dari C40, Fadhil Firdaus, menjelaskan bahwa penerapan KRE di satu kawasan Transit Oriented Development (TOD) saja dapat menurunkan kadar PM2.5 sebesar 8–11 persen di tingkat kawasan dan sekitar 3 persen di seluruh wilayah Jakarta.
“Kawasan rendah emisi mendorong perubahan sistem mobilitas perkotaan, dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik serta kendaraan ramah lingkungan. Dengan intervensi yang tepat, penurunan polusi udara bisa terlihat secara signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan KRE dirancang terintegrasi dengan sektor lain, seperti pengelolaan sampah dan penerapan bangunan hijau, sehingga mampu memberikan dampak lingkungan yang lebih luas dan berkelanjutan.
