Punya 100 Data Center AI, Suhu Panas Jakarta Terancam Naik Signifikan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) membawa konsekuensi baru terhadap lingkungan. Pusat data atau data center AI tidak hanya menyerap energi dalam jumlah besar, tetapi juga menghasilkan panas signifikan yang berpotensi meningkatkan suhu di sekitarnya.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, Albertus Sulaiman, mengungkapkan bahwa pusat data AI menghasilkan panas jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional.
“Panas ini dipancarkan 24 jam non-stop sehingga mampu menaikkan suhu di sekitarnya sebesar 0,5 derajat celsius secara klimatologi,” kata Albertus dikutip dari Katadata pada Senin (6/4).
Sebagai ilustrasi, pusat data AI berukuran setara lapangan sepak bola dengan tinggi sekitar dua lantai dapat membuang panas hingga 210 megawatt (MW), termasuk dari sistem pendingin. Jumlah ini setara dengan sekitar satu juta setrika listrik yang dinyalakan secara bersamaan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama di Jakarta, yang saat ini menjadi pusat pertumbuhan data center di Indonesia. Berdasarkan data industri, dari total 185 pusat data di Indonesia, sekitar 100 di antaranya berada di Jakarta.
BACA JUGA
- BRIN Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Bersihkan Air dari Logam Berat
- Paskah 2026 Angkat Isu Lingkungan, Keuskupan Agung Soroti Keutuhan Alam Ciptaan
- Dua Harimau Mati, DPRD Desak Evaluasi Total Kebun Binatang Bandung
Jika akumulasi panas dari pusat data terus meningkat, suhu kota berpotensi mengalami kenaikan signifikan. Dalam skenario tertentu, suhu rata-rata Jakarta yang saat ini sekitar 28°C dapat meningkat hingga 32°C dalam satu tahun.
Kenaikan ini berdampak langsung pada kesehatan manusia, terutama melalui peningkatan indeks panas. Pada suhu 32°C dengan kelembapan tinggi, tubuh dapat merasakan panas hingga 45–48°C—kategori berbahaya yang meningkatkan risiko sengatan panas.
“Ini kondisi bahaya di mana terdapat risiko head stroke atau sengatan panas karena keringat manusia tidak bisa menguap untuk mendinginkan tubuh,” kata Albertus.
Meski demikian, faktor alami seperti sirkulasi angin laut dan darat di wilayah pesisir memberikan sedikit efek mitigasi. Dalam jangka panjang, risiko ekstrem ini diperkirakan baru akan terjadi dalam rentang waktu lebih dari satu abad.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, diperlukan langkah strategis, mulai dari peningkatan efisiensi energi pusat data melalui standar power usage effectiveness (PUE), pemanfaatan panas buangan untuk kebutuhan industri, hingga pengembangan ruang hijau seperti hutan kota sebagai “radiator alami” untuk menyerap panas.
