Indonesia dan Jepang Bahas Kerja Sama Sister Park untuk Konservasi dan Ekowisata
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membuka peluang kerja sama sister park dengan Jepang dalam pengelolaan taman nasional di Indonesia. Rencana ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dengan Director Fuji-Hakone-Izu National Park, Shichimeko Shuici, serta perwakilan kantor kerja sama internasional Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, Ikuo Yamada.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan pemerintah menginisiasi pengembangan kerja sama tersebut dengan taman nasional di Indonesia yang memiliki karakteristik ekosistem serupa.
“Kementerian Kehutanan menyampaikan inisiatif pengembangan kerja sama sister park dengan Fuji-Hakone-Izu National Park dengan sejumlah taman nasional di Indonesia yang memiliki karakteristik ekosistem serupa,” kata Ristianto dalam keterangannya, Senin (30/3).
Jika terealisasi, kerja sama akan mencakup sejumlah kawasan konservasi, yakni Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera Barat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, serta Taman Nasional Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.
Ristianto menambahkan, skema sister park ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pengelolaan taman nasional melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik dalam konservasi dan pengembangan ekowisata.
BACA JUGA
- Euforia Kripto Dibayangi Jejak Karbon Raksasa, Emisinya Setara Satu Negara!
- Wacana Prabowo Terapkan WFH Satu Hari Tiap Minggu dan Efek Positifnya bagi Lingkungan
- Mudik Pakai Mobil Listrik Bisa Hemat 40%, EV Mulai Kuasai Jalanan Lebaran 2026
“Inisiatif ini juga diarahkan untuk memperkuat posisi taman nasional Indonesia agar semakin dikenal di tingkat global,” tutur dia.
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menyambut baik usulan tersebut dan mendorong tindak lanjut melalui penyelenggaraan lokakarya teknis guna membahas aspek implementasi kerja sama secara lebih mendalam.
“Workshop ini diharapkan menjadi forum awal untuk merumuskan kerangka kerja sama yang implementatif dan berkelanjutan,” jelas Ristianto.
