Polusi Udara Tak Hanya Bahayakan Manusia, Penelitian Ungkap Dampaknya pada Serangga
Jakarta, sustainlifetoday.com – Polusi udara selama ini dikenal sebagai ancaman serius bagi kesehatan manusia. Namun, berbagai penelitian terbaru menunjukkan dampaknya juga meluas ke ekosistem, termasuk terhadap kehidupan serangga yang berperan penting dalam keseimbangan alam.
Dalam satu dekade terakhir, semakin banyak studi yang mengungkap bagaimana polutan udara dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan serangga, mulai dari proses penyerbukan, perilaku sosial, hingga reproduksi.
Para ilmuwan menyoroti dua jenis polutan utama yang paling berdampak pada serangga, yaitu nitrogen oksida dan ozon. Kedua gas ini sebenarnya secara alami terdapat di atmosfer, tetapi kadarnya meningkat akibat aktivitas manusia.
Gas-gas tersebut dapat bereaksi dengan senyawa kimia yang digunakan serangga untuk berkomunikasi satu sama lain. Senyawa yang sama juga berfungsi sebagai sinyal antara serangga dan tumbuhan.
Penelitian menunjukkan bahwa polutan udara mampu memengaruhi interaksi ekologis antara serangga dan tanaman, bahkan pada tingkat yang masih dianggap aman bagi manusia.
“Meskipun bidang penelitian ini masih dalam tahap awal, semakin banyak yang kita temukan, semakin kita melihat bahwa ada potensi dampak yang sangat besar pada komunitas ekologis ini,” kata Jeffrey Riffell, ahli ekologi sensorik di Washington University dikutip dari laman National Geographic Indonesia, Sabtu (14/3).
Salah satu dampak menarik ditemukan pada semut, yang dikenal sebagai salah satu serangga paling sosial. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PNAS menunjukkan bahwa ozon dapat mengganggu interaksi sosial di dalam koloni semut.
Bau memainkan peran penting dalam kehidupan semut. Setiap koloni memiliki aroma khas yang membantu anggota koloni saling mengenali. Jika makhluk dengan bau asing memasuki koloni, semut biasanya akan menyerangnya.
Namun, ozon dapat sedikit mengubah aroma tersebut dengan bereaksi dengan hidrokarbon yang membentuk bau koloni pada tubuh semut.
Para peneliti memelihara lima spesies semut berbeda di laboratorium selama berbulan-bulan dan membentuk koloni buatan yang terdiri dari ratusan pekerja. Dalam percobaan tersebut, salah satu semut dipaparkan pada tingkat ozon yang meningkat selama 20 menit, durasi yang setara dengan waktu semut biasanya mencari makanan di luar sarang.
BACA JUGA
- Dukung Program “Gentengisasi”, BRIN Kembangkan Genting Komposit dari Limbah Biomassa
- PNM Dorong Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro, Jangkau 22,9 Juta Nasabah Mekaar
- BYD Pertimbangkan Masuk Ajang F1, Pakai Mobil Listrik?
Setelah kembali ke koloni, semut yang terpapar ozon justru diserang oleh anggota koloni lainnya pada empat dari lima spesies yang diteliti.
“Namun demikian, jika setiap kali kembali, Anda diserang dan harus menghadapinya selama 5 atau 10 menit, itu mungkin cukup untuk mengacaukan seluruh struktur koloni,” kata Markus Knaden, ilmuwan perilaku hewan di Max Planck Institute for Chemical Ecology sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pada beberapa spesies, polusi udara dapat mengganggu komunikasi kimia yang digunakan untuk menentukan tugas dalam koloni. Dalam kondisi kadar ozon tinggi, semut bahkan berhenti merawat larva karena sinyal komunikasi kimia terganggu.
“Dampaknya relatif kecil pada feromon yang diproduksi semut ini, tetapi memiliki dampak perilaku yang sangat besar,” kata Riffell.
Dampak polusi udara tidak berhenti pada semut. Studi lain menunjukkan bahwa penyerbuk seperti lebah dan ngengat juga terdampak karena polutan dapat merusak sinyal kimia yang dipancarkan bunga untuk menarik serangga.
Akibatnya, serangga menjadi lebih sulit menemukan bunga untuk mencari makan sekaligus melakukan penyerbukan.
“Meskipun faktanya bunga dan penyerbuknya telah berevolusi bersama selama jutaan tahun,” kata Knaden.
Penelitian tahap awal juga menemukan bahwa paparan ozon tingkat tinggi dapat menyebabkan stres fisiologis pada serangga serta memengaruhi kemampuan belajar pada lebah. Bahkan antena beberapa serangga menjadi kurang sensitif setelah terpapar polutan udara.
Partikel polusi juga dapat menutupi antena serangga sehingga mengurangi kemampuan mereka dalam mendeteksi sinyal kimia di lingkungan.
“Hal ini memiliki berbagai dampak hilir yang tidak hanya memengaruhi kemampuan mereka untuk memahami dunia. Tapi juga dapat memengaruhi fisiologi mereka,” kata Riffell.
Dampak polusi udara juga meluas ke aspek reproduksi serangga. Ketika feromon seksual rusak akibat polutan, serangga menjadi kesulitan menemukan pasangan.
Penelitian terhadap lalat drosophilid menunjukkan bahwa jantan yang feromonnya rusak akibat polusi udara menjadi kurang menarik bagi betina. Bahkan dalam beberapa kasus, serangga jantan mulai mendekati jantan lain atau individu dari spesies berbeda karena bau yang berubah.
Para ilmuwan menilai gangguan pada sistem feromon ini berpotensi menjadi salah satu dampak paling serius dari polusi udara terhadap keberlangsungan populasi serangga.
BACA JUGA
