PGE Percepat Transisi Energi Bersih Lewat Ekspansi Panas Bumi 727 MW
Jakarta, sustainlifetoday.com — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat peningkatan signifikan kapasitas terpasang panas bumi menjadi 727 megawatt (MW) pada 2025. Sepanjang tahun ini, PGE memfokuskan strategi pada penguatan operasi, ekspansi kapasitas, serta konsolidasi kerja sama guna memastikan panas bumi tetap kompetitif dan berkelanjutan dalam bauran energi nasional.
Pengembangan tersebut sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang menargetkan porsi energi baru terbarukan (EBT) mencapai 76 persen, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 gigawatt. Dalam skema tersebut, panas bumi diposisikan sebagai sumber energi bersih yang stabil untuk menopang ketahanan sistem kelistrikan nasional.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani mengatakan, PGE terus memperkuat peran strategisnya dalam transisi energi.
“PGE berupaya menghadirkan solusi energi bersih yang inklusif dan inovatif sekaligus memperkuat peran panas bumi sebagai tulang punggung transisi dan swasembada energi nasional,” kata Ahmad Yani, dilansir Selasa (13/1).
Ia menjelaskan, capaian pada 2025 mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keandalan operasi sekaligus meningkatkan kapasitas terpasang dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan tata kelola yang baik.
“Langkah ini sejalan dengan agenda transformasi bauran energi nasional dalam RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan EBT 76 persen, dengan panas bumi 5,2 GW,” ujar Ahmad Yani.
Baca Juga:
- Ancam Lingkungan dan Warga, Andre Rosiade Minta Polri Usut Tambang Ilegal di Sumut
- Susi Pudjiastuti: Kerusakan Lingkungan Picu Cuaca Ekstrem dan Bencana
- AS Cabut Dukungan, PBB: Perjuangan Iklim Tak Akan Berhenti
Peningkatan kapasitas terpasang ditopang oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mendorong kapasitas kelola mandiri PGE naik dari 672 MW menjadi 727 MW. Tambahan ini memperkuat pasokan listrik panas bumi yang beroperasi stabil sepanjang waktu.
Untuk jangka menengah dan panjang, PGE memulai eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi 55 MW. Proyek ini menjadi bagian dari penyiapan cadangan panas bumi berbasis sumber daya lokal.
Sejumlah proyek panas bumi PGE juga tercatat dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas, menegaskan posisi strategis panas bumi dalam peta investasi energi berkelanjutan nasional.
Di tengah tantangan pengembangan energi bersih, PGE menekankan pentingnya sinergi dengan PT Pertamina (Persero) dan PLN, termasuk kolaborasi dengan PT PLN Indonesia Power.
“Panas bumi memiliki peran strategis karena ketersediaannya stabil sepanjang waktu. Melalui sinergi dengan para pemangku kepentingan, kami dapat mempercepat pengembangan panas bumi dan memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional,” kata Ahmad Yani.
Selain pembangkitan listrik, PGE juga mengembangkan konsep beyond electricity, seperti green hydrogen, green ammonia, dan green data center berbasis panas bumi. Program pemberdayaan masyarakat turut dijalankan melalui inovasi melon geothermal Ulubelu, Pupuk Booster Katrili Lahendong, hingga Geothermal Dry House untuk kopi Kamojang.
Ke depan, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun, serta meningkat menjadi 1,8 gigawatt pada 2033. Target tersebut ditopang potensi panas bumi hingga 3 gigawatt dari 10 wilayah kerja yang dikelola secara mandiri.
