Ramadan Jadi Momentum Jaga Bumi, Greenpeace Soroti Lonjakan Sampah Makanan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Ramadan tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual dan pengendalian diri, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga hubungan manusia dengan lingkungan. Peningkatan konsumsi selama bulan suci kerap memicu lonjakan sampah dan tekanan terhadap lingkungan.
Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hubungan manusia dengan alam melalui perubahan perilaku konsumsi sehari-hari.
“Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani Bumi,” ujarnya dikutip laman Greenpeace Indonesia, Kamis (19/2).
Salah satu tantangan utama selama Ramadan adalah meningkatnya timbulan sampah makanan. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan volume sampah meningkat rata-rata 10–20 persen selama Ramadan, dengan sekitar 40 persen berupa sisa makanan.
Untuk menekan food waste, masyarakat dapat meneladani pola konsumsi sederhana saat berbuka puasa. Sisa makanan dapat disimpan untuk dikonsumsi kembali, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau diolah menjadi kompos untuk mengurangi limbah dan mengembalikan nutrisi ke tanah.
BACA JUGA:
- BMKG Prediksi Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah di Awal Ramadan
- Hamas: Jangan Jadikan Board of Peace Kedok Israel untuk Lanjutkan Perang di Gaza!
- BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga 23 Februari, Sejumlah Wilayah Diminta Waspada
Selain sampah makanan, peningkatan konsumsi juga terlihat dari penggunaan plastik sekali pakai untuk takjil dan kegiatan buka puasa bersama. Greenpeace mendorong masyarakat menggunakan wadah guna ulang seperti tumbler dan kotak makan, serta memilih kemasan alami seperti besek, tampah, atau daun pisang.
Upaya menjalankan Ramadan ramah lingkungan juga dapat dilakukan melalui gaya hidup minim sampah dan konsumsi bijak, termasuk menjelang Idul Fitri. Penggunaan kembali pakaian yang ada, memperbaiki pakaian rusak, memilih produk preloved, atau membeli pakaian berkualitas dinilai dapat mengurangi dampak industri fesyen terhadap lingkungan.
Selain aksi sehari-hari, umat Muslim juga diajak memanfaatkan momentum Ramadan untuk mendoakan kelestarian lingkungan dan kebijakan iklim yang lebih adil.
“Ramadan adalah kesempatan membersihkan jiwa sekaligus memperbaiki jejak kita di Bumi. Aksi sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi wujud nyata amanah kita sebagai khalifah,” tutup Riska.
