Perang Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Emisi Hingga Jutaan Ton!
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan, tetapi juga memperburuk krisis iklim global.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa dalam 14 hari pertama konflik, perang ini telah menghasilkan sekitar 5 juta ton emisi gas rumah kaca. Jumlah tersebut bahkan disebut menguras anggaran karbon global lebih cepat dibandingkan gabungan 84 negara dengan emisi terendah.
“Setiap serangan rudal merupakan langkah lain menuju planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan tak satu pun dari itu membuat siapa pun lebih aman,” kata Patrick Bigger, direktur penelitian di Climate and Community Institute, mengutip The Guardian, Kamis (9/4).
Emisi terbesar berasal dari kerusakan bangunan yang mencapai 2,4 juta ton CO2. Selain itu, konsumsi bahan bakar militer menyumbang sekitar 529.000 ton, sementara kebakaran depot minyak menghasilkan hingga 1,88 juta ton CO2.
Secara total, dua minggu pertama perang menghasilkan 5.055.016 ton CO2e—setara dengan emisi tahunan negara seperti Kuwait.
BACA JUGA
- BPOM akan Terapkan Label “Nutri-Level” Demi Tekan Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak
- ID Food Keluhkan Kelangkaan Plastik, Bioplastik Bisa Jadi Solusi?
- Celios Soroti Beban Fiskal Program Biofuel di Tengah Dorongan Ketahanan Energi
Penulis utama analisis, Fred Otu-Larbi, memperkirakan angka tersebut akan terus meningkat seiring berlanjutnya konflik, terutama jika fasilitas energi menjadi sasaran serangan.
“Kita semua harus menghadapi dampak perubahan iklim. Berapa biayanya, tidak ada yang benar-benar tahu, itulah mengapa studi seperti ini sangat penting. Membakar emisi tahunan Islandia dalam dua minggu adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kita tanggung,” kata Fred.
Para ilmuwan memperkirakan sisa “jatah karbon” global hanya sekitar 130 miliar ton CO2 untuk menjaga peluang membatasi pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius. Dengan laju emisi saat ini, batas tersebut berpotensi habis pada 2028.
Selain itu, konflik bersenjata dinilai dapat memperkuat ketergantungan pada bahan bakar fosil. Bigger menilai bahwa guncangan energi akibat perang kerap diikuti ekspansi infrastruktur energi fosil.
“Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu oleh AS selalu diikuti oleh lonjakan pengeboran baru, terminal LNG baru, dan infrastruktur bahan bakar fosil baru. Perang ini berisiko mengunci ketergantungan pada karbon untuk satu generasi lagi,” katanya.
