Pemerintah Siapkan Tiga Fasilitas Waste to Energy di Jakarta, Salah Satunya di Bantargebang
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah berencana membangun tiga fasilitas Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan krisis sampah di kawasan metropolitan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan salah satu fasilitas akan dibangun di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Jadi Jakarta akan ada (WtE) di Bantargebang yang bisa (kelola) 3.000 ton sampah per hari. Sebanyak 2.000 ton sampah baru, 1.000 (ton) yang lama. Ada juga di Tanjungan luas lahannya 8 hektare, bisa 2.000 ton per hari sampah baru,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (12/3).
Selain di Bantargebang dan Tanjungan, fasilitas WtE ketiga direncanakan dibangun di kawasan Sunter, dekat Jakarta International Stadium (JIS), dengan kapasitas pengelolaan lebih dari 2.000 ton sampah per hari.
Pembangunan fasilitas ini juga menjadi bagian dari langkah percepatan penanganan sampah di Bantargebang, terutama setelah insiden longsor sampah pada Minggu (8/3) lalu yang menewaskan tujuh orang.
“Mudah-mudahan nanti kejadian kemarin (longsor) tidak terulang lagi, itu menunjukkan kami memang perlu percepat. Kami tidak ingin ada masalah lagi, Jakarta itu hampir 8.000 ton setiap hari sampah sehingga sudah seperti gedung 17 lantai,” ucap Zulhas.
BACA JUGA
- BRI Perkuat Pembiayaan Berkelanjutan, Portofolio Tembus Rp811,9 Triliun
- Perusakan Hutan Baluran Diungkap, Kemenhut Tangkap Aktor Kunci Pembalakan Liar
- BMKG: Hujan dan Angin Kencang Berpotensi Terjadi Menjelang Puncak Mudik Lebaran 2026
Secara nasional, pemerintah menargetkan fasilitas PSEL mulai beroperasi pada 2027 di empat kota pada tahap awal, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
Pada tahap berikutnya, pembangunan WtE akan diperluas ke 14 kota lain, termasuk Jakarta, Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Serang, dan Tangerang Raya.
“Awal 2028 empat ini juga sudah jadi, menyusul yang 14 (kota) kami harapkan pertengahan 2028 sampai akhir 2028 juga sudah jadi,” kata dia.
Peletakan batu pertama proyek tersebut dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026. Pemerintah menilai peningkatan volume sampah di kota besar telah menjadi persoalan mendesak yang memerlukan solusi terpadu.
“Kita sudah masuk kategori darurat sampah. Oleh karena itu ada beberapa cara yang kami akan selesaikan sebagaimana sudah diketahui, ada Waste to Energy, ada lagi nanti yang (pengelolaan sampah) di bawah 1.000 (ton), dan seterusnya,” beber Zulhas.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Jakarta telah menyiapkan lokasi untuk pembangunan fasilitas PSEL tersebut.
“Jakarta siap di tiga tempat. Sudah ada pembebasan lahan baru,” ucap Pramono.
Sebagai informasi, TPST Bantargebang saat ini menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari yang berasal dari seluruh wilayah Jakarta.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mini telah beroperasi di Bantargebang sejak 2020 dengan kapasitas pengolahan sekitar 100 ton sampah per hari. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas empat hektar dan mampu menghasilkan sekitar 700 kilowatt hour (kWh) listrik setiap hari.
Selain itu, TPST Bantargebang juga memiliki fasilitas landfill mining serta pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif refused derived fuel (RDF). Melalui fasilitas ini, sekitar 2.000 ton sampah dapat diolah menjadi 700 ton RDF per hari untuk membantu mengurangi timbunan sampah di lokasi tersebut.
BACA JUGA
