Atasi Karhutla Berulang, Guru Besar UGM Dorong Pembasahan Gambut dan Mitigasi Reaktif
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di Indonesia dinilai tidak lagi cukup mengandalkan pola pemadaman reaktif saat api telah meluas. Intervensi holistik yang mengendalikan aktivitas manusia sebagai sumber pemicu utama, menjaga hidrologi lahan gambut tetap basah, serta perlindungan ekosistem menjadi urgensi mendesak.
Topik ini menjadi pembahasan utama para pakar dalam UGM Podcast yang diselenggarakan oleh Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM).
Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, memaparkan bahwa karhutla terbentuk dari tiga variabel utama: sumber api, ketersediaan bahan bakar vegetasi organik, dan iklim. Walaupun fenomena iklim seperti El Niño mempercepat pengeringan vegetasi, pemicu awal penyalaan api sebagian besar berasal dari aktivitas manusia.
“Kalau di kita, di negara Indonesia, yang sering terjadi itu begitu,” jelas Ris saat menerangkan bahwa kebakaran dapat dipicu oleh kelalaian manusia maupun aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Ris menggarisbawahi praktik pembakaran lahan yang kerap dipilih demi efisiensi biaya tanpa pengawasan memadai, sehingga berisiko merambat ke kawasan yang lebih luas.
Merekap data akumulatif, luas karhutla di Indonesia sepanjang periode 2015–2026 telah menembus angka sekitar 8,35 juta hektare. Puncak kebakaran terbesar terjadi pada 2015 (2,61 juta hektare), 2019 (1,65 juta hektare), dan 2023 (1,16 juta hektare). Ris mendorong penguatan kelembagaan pencegahan yang konsisten alih-alih bersifat temporer.
“Jangan sampai, misalnya, mendirikan badan atau balai untuk menangani karhutla itu reaktif. Misalnya, kalau ada kebakaran baru dibuat, kalau tidak, tidak usah,” ujarnya.
BACA JUGA
- Optimalkan Aset PLTS 100 GWp, Xurya Dorong Adopsi Teknologi dan Green Jobs
- Atasi 10 Ribu Hektare Lahan Rawan Karhutla, Pemerintah Libatkan 350 Perusahaan di Kalsel
- Dukung Industri Baterai EV, BRIN Olah Grafit Alam Domestik Jadi Material Elektroda
Dari sudut pandang ilmu tanah, Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengolahan Tanah Fakultas Pertanian UGM, Prof. Benito Heru Purwanto, menerangkan bahwa kubah gambut yang terbentuk dari akumulasi material organik selama ribuan tahun sangat rentan terbakar apabila muka air tanahnya terganggu akibat pembuatan kanal pembuangan air.
Ketika gambut mengering, api tidak hanya membakar vegetasi permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah (underground fire).
“Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita,” tegas Benito.
Mengingat karakteristik perambatan api di bawah permukaan tersebut, Benito menilai intervensi pemadaman konvensional memiliki keterbatasan teknis.
“Penjatuhan air dari udara atau water bombing tidak cukup efektif apabila sumber api berada di bawah permukaan tanah. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pembasahan kembali atau rewetting untuk memulihkan kondisi gambut agar tetap basah,” ungkapnya.
Benito mendorong pengelolaan tata air (water management) dilakukan sejak musim hujan guna menjaga kelembapan gambut secara konstan sebelum memasuki periode kemarau. Hilangnya material organik akibat kebakaran gambut memicu subsidensi (penurunan permukaan tanah) yang membutuhkan waktu amat panjang untuk dipulihkan.
“Mengingat pembentukan gambut membutuhkan waktu sangat lama, kerusakan akibat kebakaran menjadi persoalan ekologis yang pemulihannya tidak dapat dilakukan secara singkat,” tegasnya.
