Respons Kritik Politisi Malaysia, Wamenko Pangan: Karhutla Dipicu Faktor Iklim ‘El Nino’
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah Indonesia merespons kritik dan desakan dari Anggota DPR Malaysia, Andrew Chen Kah Eng, terkait eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu pencemaran kabut asap lintas batas (transboundary haze).
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa penjelasan diplomasi resmi antarnegara berada di bawah kewenangan Menteri Luar Negeri RI. Namun, Hanif meluruskan narasi publik internasional dengan menekankan bahwa tingginya intensitas karhutla tahun ini tidak lepas dari tekanan kondisi iklim ekstrem El Nino yang memicu pengeringan vegetasi secara masif.
“(Karhutla) tentu tidak ulah manusia semata, tapi memang potensi bahan bakar yang cukup berlimpah di Indonesia dengan El Nino yang cukup panjang dan suhu yang cukup tinggi juga menjadi salah satu pendorong dari kegiatan ini,” ujar Hanif usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta Barat, Kamis (15/10/2026).
Hanif juga menyinggung penerapan prinsip hukum lingkungan internasional (environmental law) mengenai pertanggungjawaban pihak pencemar (polluter pays principle). Ia meyakini Menlu RI, Arrmanatha Nasir, akan menyampaikan argumen teknis dan langkah konkret Indonesia dalam forum ASEAN secara terukur.
“Nanti pasti Bapak Menteri Luar Negeri akan menjelaskan secara teknis kepada teman-teman di ASEAN karena prinsip environmental law itu sama, siapapun pencemar wajib membayar. Saya pikir Menteri Luar Negeri akan mendiskusikan dengan diplomasi yang saya pikir sudah tata dengan baik,” ujar Hanif.
BACA JUGA
- Tekan Risiko Kepunahan Satwa Dampak Karhutla, Kemenhut Evakuasi 232 Satwa Liar
- Buktikan Nilai Tambah ESG, PTPN IV Raup Insentif Penjualan Sawit Berkelanjutan Rp190,78 Miliar
- Antisipasi Dugaan Wabah di Rusia, Pakar UGM Dorong Penguatan Surveilans Vektor Penyakit Pes
Sebelumnya, Anggota DPR Malaysia, Andrew Chen Kah Eng, mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah cepat guna memadamkan karhutla serta menyampaikan permohonan maaf resmi kepada negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Andrew menyoroti bahaya paparan partikulat halus PM2.5 bagi kesehatan masyarakat.
“Membiarkan kabut asap yang mengandung partikel halus PM2.5 mencemari udara negara lain tidak dapat diterima, terlebih lagi karena situasi ini mengancam kesehatan masyarakat,” kata Andrew, dikutip dari Malay Mail, Senin (12/10/2026).
Andrew menyampaikan kritik tajam terhadap dampak kesehatan yang dialami warga Malaysia akibat kepungan asap tersebut.
“Rakyat Malaysia menderita akibat polusi ini, tetapi para pejabat Anda tampaknya mengabaikan masalah kesehatan kami.”
Lebih lanjut, Andrew mendorong PBB dan ASEAN untuk secara tegas menetapkan hak atas lingkungan yang bersih, aman, dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia universal. Ia juga mengecam klaim yang menyebut karhutla semata-mata merupakan fenomena alam, lantaran dinilai mengabaikan faktor aktivitas manusia dalam pembukaan lahan gambut.
Dia mengingatkan bahwa meremehkan karhutla gambut sebagai tindakan alam mengabaikan praktik buatan manusia yang mendorong polusi lintas batas.
