Geo Dipa Proyeksikan Permintaan Listrik Industri Hijau Melonjak Hingga 5,3 Kali
Jakarta, sustainlifetoday.com – Paradigma transisi energi di Indonesia kini bergeser dari sekadar komitment pengurangan emisi karbon menjadi variabel penentu daya saing industri nasional di pasar global. Ketersediaan energi terbarukan dipandang sebagai modal strategis untuk menarik investasi, memperluas jangkauan ekspor, serta mendorong penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs).
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, memproyeksikan kebutuhan listrik untuk industri berbasis hijau berpotensi melonjak 3,5 hingga 5,3 kali lipat sepanjang periode 2026–2034. Akselerasi ini didorong oleh ekspansi hilirisasi mineral, manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan baterai, pusat data (data center) dan Artificial Intelligence (AI), kawasan industri hijau, hingga industri pengolahan berorientasi ekspor.
“Kalau kita link-kan EBT ini ke seluruh yang berminat, maka tidaklah terlalu berlebihan kalau kita mengatakan sepanjang 2026 sampai 2034 permintaan tentang listrik industri hijau itu bisa naik antara 3,5 sampai 5,3 kali,” kata Yudistian dalam agenda Kementerian Keuangan di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Yudistian menggarisbawahi bahwa pemanfaatan energi bersih harus diposisikan sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi. Kebijakan perdagangan internasional yang kian memperhitungkan jejak karbon (carbon footprint), seperti penerapan mekanisme penyesuaian batas karbon di pasar Eropa,membuat produk yang diproduksi dengan energi fosil terancam terkena penalti fiskal dan kehilangan daya saing.
“Daya saing kita itu bisa terbangun kalau industri-industri kita yang memerlukan basis hijau itu disuplai energinya dari energi baru terbarukan,” ujarnya.
“Kalau awalnya cuma kewajiban lingkungan, harusnya kita melihat hari ini kewajiban lingkungan itu bisa menjadi peluang bagi kita untuk mengkonversi menjadi mesin pertumbuhan,” katanya.
BACA JUGA
- GRI Kembangkan Standar Pelaporan Keberlanjutan Sektor Makanan dan Minuman
- Hotspot Karhutla Jadi 893 Titik, Kemenhut Intensifkan Operasi Udara dan Evakuasi Satwa
- Dukung Armada Listrik GrabCar Plus, Superbank Salurkan Pembiayaan 200 Unit EV
Guna menangkap peluang pertumbuhan ekosistem industri hijau tersebut, Yudistian memperkirakan Indonesia membutuhkan alokasi investasi hijau berkisar antara US$45 miliar hingga US$60 miliar. Nilai ini mencakup pembangunan di sisi penyediaan sumber energi terbarukan sekaligus pengandangan infrastruktur industri pemanfaat energi bersih.
Akumulasi investasi tersebut diperkirakan mampu menyumbang potensi tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 6 persen serta membuka sekitar 1,5 juta hingga 2 juta green jobs.
“Tambahan investasi hijau yang kita butuhkan untuk melingkarkan ini ada dua hal. Sisi penyediaan energinya sama sisi industrinya sendiri. Itu hampir US$45–60 miliar, dengan harapan dia bisa menambah potensi tambahan PDB nasional sekitar 6%,” jelasnya.
“Kalau mau ngomong green job, green economy profiling utamanya adalah energinya dulu. Energinya harus disiapkan,” ujarnya.
Dalam ekosistem transisi energi nasional, Geo Dipa sebagai BUMN Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan berfokus pada optimasi energi panas bumi (geothermal). Keunggulan utama panas bumi terletak pada keandalannya sebagai penyedia energi beban dasar (base-load) yang relatif stabil tanpa terpengaruh fluktuasi musim.
Yudistian membandingkan tingkat keandalan pasokan panas bumi yang mampu beroperasi hingga kapasitas 95 persen sepanjang tahun, sementara Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berpengelola waduk berkisar pada angka 65 persen akibat dinamika musim hujan dan kemarau.
“Kalau panas bumi dia bisa memenuhi 95% bisa mensuplai energi. Karena panas bumi ini dia langsung dari energi primernya langsung jadi listrik,” katanya.
Ia juga menyoroti risiko greenwashing apabila sektor manufaktur kendaraan listrik dan baterai masih menggantungkan pasokan dayanya dari pembangkit beremisi tinggi.
“Kalau EV dan industri baterai ini juga semuanya pabriknya tidak disiapkan dengan EBT, maka akan jadi persaingan. Orang bilang ke EV, ah EV kata siapa? Dia melepaskan karbon. Orang produksinya juga pakai energi fosil, orang isi baterainya juga pakai energi fosil,” ujarnya.
Berdasarkan analisis Geo Dipa terhadap Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), proyeksi kebutuhan listrik industri pada 2034 sebesar 140 terawatt-hour (TWh) dapat dipenuhi oleh sekitar 70 persen dari target produksi EBT nasional. Integrasi penuh EBT pada sektor industri ini berpotensi menetralkan emisi karbon setara 151 juta ton CO2.
“Dengan peluang ini maka kita akan bisa mengurangi atau menetralkan yang fosil yang kita bangkitkan itu dengan EBT yang ekuivalen sebesar 151 juta ton CO2,” pungkasnya.
