GRI Kembangkan Standar Pelaporan Keberlanjutan Sektor Makanan dan Minuman
Jakarta, sustainlifetoday.com – Global Reporting Initiative (GRI) mengumumkan rencana perluasan standar pelaporannya dengan menyusun aturan baru khusus untuk industri makanan dan minuman (food and beverages). Standar ini dirancang guna memfasilitasi korporasi dalam melaporkan dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas operasional hingga rantai pasok (supply chain) mereka secara transparan dan terukur.
Aturan baru ini disiapkan oleh Global Sustainability Standards Board (GSSB) sekaligus menjadi proyek percontohan (pilot project) bagi pendekatan penyusunan standar GRI yang lebih ringkas dan akseleratif.
Mengutip ESG Today, Kamis (1/10/2026), Standar Pelaporan Keberlanjutan GRI merupakan salah satu kerangka panduan global yang paling luas diadopsi oleh pelaku usaha dunia guna menyelaraskan keterbukaan informasi keberlanjutan bagi pemangku kepentingan dan investor.
GRI mencatat bahwa industri makanan dan minuman menyumbang sekitar sepertiga dari total emisi gas rumah kaca global, memicu dampak langsung pada kesehatan masyarakat, serta memiliki risiko keselamatan kerja di sepanjang rantai pasoknya. Standar anyar ini akan mencakup subsektor pengolahan makanan, manufaktur minuman beralkohol dan non-alkohol, hingga produk tembakau, yang menghubungkan operasional internal dengan sektor hulu pertanian dan perikanan.
BACA JUGA
- Cegah Lonjakan Emisi 1 Miliar Ton CO2, PLN Andalkan ARED dan Green Enabling Super Grid
- Perluas Akses Pasar UMKM Binaan, Pertamina Kembali Gelar SMEXPO 2026 di Berbagai Kota
- Dorong Efisiensi Air dan Energi, AZKO Rilis Seri Perangkat Sanitasi Ramah Lingkungan
Manajer Senior Standar GRI, Peter Dawkins, menggarisbawahi urgensi pemetaan dampak keberlanjutan pada sektor konsumsi ini.
“Sektor makanan dan minuman menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat, sementara rantai pasoknya berhubungan erat dengan beberapa tantangan keberlanjutan paling mendesak saat ini. Mulai dari perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, hingga kondisi kerja dan kesehatan masyarakat, perusahaan harus memahami dan melaporkan dampak mereka secara transparan,” kata Peter Dawkins.
Sektor makanan dan minuman diprioritaskan menjadi percontohan pendekatan baru ini mengingat skala industrinya yang raksasa, sebarannya yang global, serta besarnya risiko dampak terhadap ekosistem bumi.
