Pemerintah Siapkan Biodiversity Credit untuk Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah mulai menyusun instrumen biodiversity credit yang disesuaikan dengan karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat perlindungan sekaligus pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Instrumen tersebut menjadi bagian dari pengembangan berbagai mekanisme pembiayaan dan perlindungan keanekaragaman hayati nasional, termasuk melalui pendekatan biodiversity asset dan skema kontribusi konservasi berbasis hasil.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Rasio Ridho Sani, mengatakan Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan biodiversitas yang harus dikelola secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kekayaan keanekaragaman hayati kita adalah sumber daya yang harus kita kelola untuk pertumbuhan dan kesejahteraan kita,” ujar Rasio dalam sebuah diskusi yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dikutip Minggu (14/6).
Menurut Rasio, pengembangan biodiversity credit menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Pemerintah, lanjutnya, mendorong pengembangan berbagai instrumen pendukung biodiversitas melalui pendekatan multi-instrumen yang mencakup biodiversity credit, biodiversity asset, dan berbagai mekanisme konservasi lainnya.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya KLH/BPLH, Noer Adi Wardojo, menegaskan bahwa kerangka kebijakan biodiversity credit Indonesia tidak akan sekadar meniru praktik yang telah diterapkan negara lain.
BACA JUGA
- Menteri LH: Generasi Tua Punya Utang Lingkungan kepada Gen Z dan Gen Alpha
- PNM Gandeng KPPPA Edukasi Orang Tua tentang Pentingnya Kesehatan Mental Anak
- Sampah Plastik Berpotensi Jadi BBM Terbarukan, Regulasi Sedang Disiapkan Pemerintah
“Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang memiliki karakteristik unik. Karena itu, pengembangan biodiversity credit tidak dapat hanya meniru praktik negara lain, tetapi harus dibangun berdasarkan kebutuhan, potensi, dan kondisi Indonesia sendiri,” ujar Noer Adi.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai pendekatan biodiversity credit, mulai dari skema kompensasi, offset, hingga kontribusi sukarela.
Namun demikian, seluruh mekanisme tersebut harus berbasis pada hasil konservasi yang terukur, dapat diverifikasi, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat.
Noer Adi menyebut pengembangan instrumen ini diharapkan membuka sumber pendanaan baru bagi upaya konservasi di Indonesia, sekaligus mendorong sektor swasta dan berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat lebih aktif dalam menjaga kekayaan biodiversitas nasional.
