Saat Dunia Krisis Avtur, Emisi Jet Pribadi Orang Kaya Malah Naik
Jakarta, sustainlifetoday.com – Di tengah krisis bahan bakar avtur global akibat konflik Iran, penggunaan jet pribadi justru mengalami lonjakan. Fenomena ini kembali memunculkan sorotan terhadap ketimpangan emisi karbon dan gaya hidup berintensitas energi tinggi di tengah krisis energi dunia.
Seperti dikutip Mirror pada Selasa (5/5), berdasarkan analisis firma data penerbangan WINGX Advance, industri jet pribadi global nyaris tidak terdampak oleh kenaikan biaya bahan bakar yang mencekik.
Pasokan bahan bakar fosil dari kawasan Teluk praktis terhenti sejak pecahnya perang dan blokade Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, aktivitas penerbangan privat justru menunjukkan tren sebaliknya. Penerbangan jet pribadi secara global naik 4,7 persen (YoY) per 19 April 2026.
Di kota-kota Amerika Serikat seperti Washington DC dan Houston, penggunaan naik hingga 17 persen. Hal ini dipicu oleh kelangkaan staf TSA (otoritas keamanan transportasi) di bandara komersial akibat pembekuan gaji.
Pengiriman avtur global pekan lalu merosot ke level terendah dalam sejarah, yakni di bawah 2,3 juta ton, kurang dari separuh rata-rata volume sebelum perang.
Analis WINGX Advance, Richard Koe, mencatat bahwa harga avtur Jet A1 telah naik dua kali lipat sejak Januari. Namun, biaya ini langsung dibebankan kepada konsumen akhir.
“Karena aktivitas terbang tetap naik, jelas bahwa permintaan mereka tidak elastis terhadap harga,” jelas Koe.
Di tengah krisis energi dan meningkatnya tekanan terhadap pengurangan emisi karbon, lonjakan penggunaan jet pribadi dinilai memperlihatkan kesenjangan besar dalam kontribusi terhadap krisis iklim.
BACA JUGA
- Prabowo Janjikan Rumah Murah untuk Buruh hingga Nelayan dengan Cicilan Bunga Rendah
- Indonesia Punya Potensi Besar di Era AI, Tapi Akses Pendidikan Masih Terbatas
- Amsterdam Larang Iklan Daging dan Produk Berbasis Fosil di Ruang Publik
Penerbangan jet pribadi merupakan salah satu aktivitas manusia yang paling boros energi dan menghasilkan emisi karbon tertinggi. Studi dari jurnal Nature mengungkapkan fakta miris.
“Sebagian besar pesawat kecil ini membuang lebih banyak karbon dioksida dalam dua jam terbang dibandingkan rata-rata emisi yang dihasilkan satu orang biasa dalam satu tahun,” bunyi fakta dalam studi itu.
Data tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 250 ribu orang super kaya menghasilkan 17,2 juta ton karbon dioksida. Angka ini setara dengan total emisi tahunan 67 juta penduduk Tanzania.
Bahkan, laporan Oxfam mengklaim miliarder melepaskan lebih banyak polusi karbon dalam 90 menit terbang daripada yang dihasilkan rata-rata orang dalam seumur hidup.
Peneliti transportasi dari Linnaeus University Swedia, Stefan Gössling, menilai persoalan utama bukan hanya besarnya emisi, tetapi juga aspek keadilan iklim.
“Kerusakan lingkungan dilakukan oleh mereka yang punya banyak uang, sementara biayanya harus ditanggung oleh mereka yang punya sedikit uang,” tegas Gössling.
Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan bahwa Eropa bisa kehabisan avtur dalam hitungan minggu pada 2026 jika gangguan pasokan energi terus berlanjut.
Lonjakan penggunaan jet pribadi di tengah krisis avtur global pun memperlihatkan bagaimana transisi menuju sistem transportasi rendah emisi masih menghadapi tantangan besar, terutama dari pola konsumsi kelompok berpenghasilan tinggi yang memiliki jejak karbon sangat besar.
