BRIN Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Bersihkan Air dari Logam Berat
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Upaya inovasi dalam pengelolaan limbah terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan solusi ramah lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia mengembangkan teknologi pembersih air tercemar logam berat dengan pendekatan berbasis material dan radiasi.
Teknologi ini memanfaatkan karbon aktif yang dimodifikasi menggunakan iradiasi gamma serta bahan ramah lingkungan untuk meningkatkan kemampuan penyerapan logam berat, khususnya tembaga (Cu²).
Ketua tim riset, Dhita Ariyanti, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang sebagai solusi praktis dalam pengolahan air limbah.
“Kami mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien. Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (2/4).
Dalam prosesnya, karbon aktif yang umum digunakan sebagai penyaring air dimodifikasi dengan mencampurkannya dengan surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), bahan yang lebih mudah terurai dan berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan.
Material tersebut kemudian diproses menggunakan iradiasi gamma untuk memperbaiki struktur permukaan, sehingga meningkatkan daya serap terhadap logam berat.
BACA JUGA
- Harga BBM Ditahan, Menkeu Purbaya: Beban Subsidi Energi Bisa Naik Rp100 Triliun
- Tegaskan Fungsi WFH untuk Efisiensi Energi, Kemnaker: Hak Pekerja Tak Boleh Dipotong
- Deforestasi Indonesia Melonjak 66% pada 2025, Kalimantan dan Papua Jadi Sorotan
Hasil pengujian menunjukkan bahwa karbon aktif yang telah dimodifikasi mampu menyerap logam tembaga lebih cepat dan efektif dibandingkan karbon aktif konvensional. Kondisi optimal dicapai dalam waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi gamma sebesar 10 kiloGray (kGy).
Peneliti lain, Deny Swantomo, menjelaskan bahwa teknologi radiasi memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro.
“Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan,” ujarnya.
Selain meningkatkan efektivitas penyerapan, metode ini juga berpotensi menghemat waktu dalam proses pengolahan air, dimana ini menjadi keunggulan penting bagi sektor industri yang membutuhkan efisiensi tinggi.
Penelitian ini masih terus dikembangkan untuk meningkatkan kinerja teknologi. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat diterapkan lebih luas, baik dalam pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih, sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
