Wacana Prabowo Terapkan WFH Satu Hari Tiap Minggu dan Efek Positifnya bagi Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Presiden Prabowo Subianto untuk menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari setiap minggu dinilai tidak hanya berpotensi menghemat bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga memberikan dampak positif terhadap aspek keberlanjutan, khususnya penurunan emisi dan efisiensi energi.
Wacana kebijakan ini muncul di tengah tekanan geopolitik global yang berimbas terhadap sektor energi. Jika diterapkan, kebijakan ini dinilai mampu membuka ruang bagi pendekatan berbasis perubahan perilaku dalam menekan konsumsi energi nasional.
Sebagaimana diketahui, pengurangan mobilitas harian menjadi salah satu dampak utama dari penerapan WFH. Dengan berkurangnya perjalanan pekerja ke kantor, konsumsi BBM dapat ditekan, terutama di kawasan perkotaan yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi.
Dari sisi lingkungan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon dari sektor transportasi, yang merupakan salah satu kontributor utama emisi di Indonesia.
BACA JUGA
- Euforia Kripto Dibayangi Jejak Karbon Raksasa, Emisinya Setara Satu Negara!
- Lebaran 2026 Bisa Picu 72 Ribu Ton Sampah, Mudik Massal Jadi Ancaman Lingkungan?
- Mudik Pakai Mobil Listrik Bisa Hemat 40%, EV Mulai Kuasai Jalanan Lebaran 2026
Mengacu pada analisis International Energy Agency, pola kerja jarak jauh memiliki dampak langsung terhadap konsumsi energi dan emisi. Selain itu, penerapan WFH juga berpotensi mendorong efisiensi energi pada sektor perkantoran. Pengurangan aktivitas fisik di kantor selama satu hari dalam seminggu dapat menekan penggunaan listrik, termasuk untuk pendingin udara, pencahayaan, dan operasional gedung.
“Peralihan yang lebih signifikan ke sistem kerja dari rumah juga dapat mengakibatkan penurunan permintaan (energi) terhadap ruang kantor dan bangunan komersial, sehingga berpotensi menghasilkan penurunan yang lebih besar secara keseluruhan dalam konsumsi energi dan emisi CO₂,” ungkap Daniel Crow, analis IEA dikutip pada Selasa, 24 Maret 2026.
Dalam skala nasional, langkah ini dinilai dapat berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi energi tanpa memerlukan investasi tambahan dalam infrastruktur.
Di luar aspek energi dan emisi, kebijakan WFH juga berpotensi memberikan manfaat tambahan berupa penurunan tingkat polusi udara di kawasan perkotaan. Berkurangnya jumlah kendaraan di jalan dapat menekan emisi polutan seperti partikulat halus (PM2.5) dan nitrogen oksida (NOx), yang berdampak pada peningkatan kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Secara keseluruhan, wacana penerapan WFH satu hari per minggu menunjukkan bahwa kebijakan berbasis efisiensi dan perubahan pola kerja dapat menjadi bagian dari strategi menuju pembangunan rendah karbon.
Jika diterapkan secara konsisten dan terukur, langkah ini dinilai tidak hanya berdampak pada penghematan energi, tetapi juga mendukung upaya jangka panjang dalam menekan emisi dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
