Brunei Lirik Transformasi Energi Indonesia, Bahas Peluang Kerja Sama EBT dan Migas
Jakarta, sustainlifetoday.com — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Brunei Darussalam menunjukkan ketertarikan terhadap langkah transformasi energi yang dilakukan Indonesia, khususnya dalam pengembangan pembangkit dari berbagai sumber energi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Brunei mulai melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang lebih maju dalam mengembangkan sistem pembangkit energi yang terdiversifikasi.
“Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi, di mana Brunei memanfaatkan 99 persen gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas tersebut,” ujar Bahlil Lahadalia dalam keterangannya dilansir Senin (16/3).
Bahlil menyebutkan Brunei tengah mempersiapkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional hingga lima kali lipat dari kapasitas saat ini. Negara tersebut berencana menambah sekitar 4 gigawatt (GW) dari kapasitas eksisting yang saat ini berada di kisaran 1 GW.
Pembahasan kerja sama energi ini berlangsung dalam pertemuan bilateral antara Bahlil dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister’s Office Brunei Darussalam, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi bin Haji Mohd Hanifah.
BACA JUGA
- Dua Korporasi di Tangerang Segera Disidang Atas Tindak Pidana Lingkungan
- Kemenkes: Hampir 10 Persen Anak Indonesia Terindikasi Gangguan Kecemasan dan Depresi
- BRIN dan Agrinas Palma Nusantara Kolaborasi Kembangkan Sawit Berkelanjutan
Pertemuan tersebut berlangsung di sela agenda Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3) waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, kedua negara membahas sejumlah peluang kerja sama strategis di sektor energi, mulai dari pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan hingga penguatan ketahanan pasokan minyak.
Delegasi Brunei menyampaikan ketertarikan untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khususnya yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Selain itu, pemerintah Indonesia juga membuka peluang penjajakan impor minyak bumi dari Brunei untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas produksi minyak Brunei yang mencapai sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari, opsi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman,” katanya.
Bahlil juga menyampaikan bahwa Brunei menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi yang diterapkan oleh PT Pertamina (Persero), khususnya teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang digunakan untuk meningkatkan produksi minyak dari sumur-sumur tua.
“Kami siap melakukan kerja sama untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis. Nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar,” ujarnya.
Sementara itu, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi bin Haji Mohd Hanifah mengungkapkan negaranya tertarik mempelajari penerapan teknologi EOR yang telah digunakan di Indonesia.
“Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding dan kita percaya bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR,” ujarnya.
BACA JUGA
