Setelah Longsor Sampah Bantargebang, Pemprov DKI Percepat Operasional Fasilitas RDF Rorotan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti pentingnya keberadaan fasilitas pengolahan sampah di RDF Plant Rorotan setelah terjadinya longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu (8/3).
Menurut Pramono, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa Jakarta perlu mulai mengurangi ketergantungan pada Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir sampah dari ibu kota.
Salah satu langkah yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah mempercepat operasional fasilitas pengolahan sampah RDF di Rorotan, Jakarta Utara.
“Kalau 1.000 ton bisa diolah di Rorotan, itu sudah sangat signifikan untuk mengurangi sampah yang dikirim ke Bantargebang,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3).
Ia menjelaskan bahwa fasilitas RDF Rorotan saat ini masih dalam tahap commissioning atau uji coba operasional. Pemerintah berharap proses tersebut segera rampung sehingga fasilitas dapat beroperasi secara normal.
“Yang di Rorotan kami sedang melakukan commissioning. Mudah-mudahan segera selesai sehingga Rorotan bisa beroperasi normal,” kata dia.
BACA JUGA
- ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
- Governance Failures Bisa Picu Krisis Reputasi Korporasi, Ini Peringatan Herry Ginanjar
- Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
Pramono mengakui kapasitas fasilitas tersebut belum bisa langsung mencapai target awal seperti yang direncanakan. Namun, jika mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari, hal itu dinilai sudah cukup membantu mengurangi beban Bantargebang.
Dengan kapasitas tersebut, fasilitas RDF Rorotan diperkirakan dapat mengurangi pengiriman sampah dari Jakarta ke Bantargebang sekitar 1.000 hingga 1.500 ton per hari.
Saat ini, volume sampah dari Jakarta yang dikirim ke Bantargebang mencapai sekitar 7.400 hingga 8.000 ton per hari. Kondisi ini membuat kapasitas tempat pembuangan akhir tersebut semakin terbatas.
“Sampah kita antara 7.400 sampai dengan 8.000 itu kalau biasanya pada akhir pekan. Pasti ada dampaknya dan untuk itu kami akan melakukan proses pemilahan di ujung,” kata dia.
Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya mengurangi ketergantungan pada Bantargebang. Salah satu caranya dengan membangun fasilitas pengolahan sampah di dalam kota serta mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
“Sekaligus untuk mengatur agar semuanya itu tidak dikirimkan ke Bantargebang. Karena Bantargebang memang harus mulai ada pembatasan, karena daya tampungnya sudah sangat terbatas,” tutur Pramono.
